Oke, Namaku Arini
Sabrina. Biasa dipanggil Rini kalo dirumah. Kalo di kampus ya dipanggil Arin
atau Arini. Tapi ada beberapa dosen yang suka manggil saya Sabrina. Katanya lebih
elegan kalo dipanggil Sabrina. Hehe..
Saat ini saya sedang
belajar di IAIN Pekalongan, perguruan tinggi negeri satu-satunya di Karesidenan Pekalongan.
Sebenarnya nggak ada niatan untuk kuliah disini. Dulu justru saya pernah bilang
saya mending gak usah kuliah kalau harus disuruh kuliah di IAIN Pekalongan
(dulu dikenal dengan sebutan STAIN Pekalongan). Eh tapi akhirnya kemakan
omongan sendiri. huhuhu
Dulu saya tuh
udah lolos beasiswa BidikMisi di Universitas Negeri Semarang, Waktu itu saya mengambil jurusan
Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan pertama dan Akuntansi sebagai pilihan
yang kedua. Namun sayang beribu sayang, orang tua saya nggak ngijinin saya
kuliah di Semarang. Biasalah alasan klasik para orang tua nggak mau ditinggal
jauh sama anaknya. Wal hasil, ya
sudahlah. Agak sedikit kecewa sama orang tua sih.
Dan pada akhirnya
mau nggak mau saya harus berlabuh di IAIN Pekalongan. Saya daftar lewat jalur
mandiri dan akhirya diterima. Saya orangnya paling malas kalo disuruh mengikuti
OSPEC atau kalau di IAIN Pekalongan tahun saya dulu dinamakan dengan TASKA
(Taaruf Studi Kampus). Saya pun memutuskan untuk tidak mengikuti TASKA. Jika
teman-teman mahasiswa lain itu pada punya jas almamater, lain halnya dengan
saya. Hingga semester 4 ini saya belum punya jas almamater kampus loh. Banyak
yang bilang kalau saya ini mahasiswa ilegal karena nggak punya jas almamater. Tapi
lagi-lagi, saya gak suka peduli dengan omongan orang lain.
Nah, di jurusan yang
saya ambil kebetulan belajar tentang dunia penyiaran alias broadcast. Itu
dunia yang menurut saya sangat baru dan karena saya agak gaptek jadi ya agak
merasa gimana gitu. Tapi justru disitulah tantangan bagi saya untuk belajar
lebih giat lagi dan mengenal banyak hal baru. Karena saya selalu memberikan
stempel bagi diri saya sendiri bahwa saya adalah “someone with full of
motivation to learn new things”. Jadi mau nggak mau saya harus selalu belajar
terus.
Mungkin berbeda
dengan teman-teman satu jurusan yang lain, yang mana mereka lebih aktif di
himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) sedangkan saya lebih memilih aktif di
organisasi intra kampus. Saya aktif di dua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Pertama
saya mengikuti UKM Bahasa, karena disitu saya bisa mengembangkan dan
mengaplikasikan dan berinteraksi dengan teman-teman dengan menggunakan bahasa
Arab dan juga bahasa Inggris. Dengan mengikuti UKM Bahasa ini, dulu ketika
tahun 2017 saya dipilih menjadi delegasi Lomba Debat Bahasa Inggris Tingkat
Nasional mewakili IAIN Pekalongan di Universitas Islam Negeri Ar Raniry Banda
Aceh. Saya senang mengikuti kompetisi semacam itu.
Berawal dulu
ketika saya masih duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA) saya dipilih mewakili
sekolah saya mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada
Jogjakarta. Selain itu juga saya biasa mengikuti lomba pidato Bahasa Arab dan
Bahasa Inggris tingkat Kabupaten di Pemalang tiap tahun dan selalu mendapatkan
juara. Maka tak heran, ketika saya baru menginjak semester 2, saya langsung
direkrut menjadi pengurus di UKM Bahasa periode 2017 menempati posisi dibidang
Pemberdayaan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM). Dan untuk tahun 2018 ini, saya
menjabat sebagai Sekretaris I di UKM Bahasa tersebut.
Kedua, saya
mengikuti UKM Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al Mizan. UKM yang berfokus kepada
dunia tulis menulis. Jujur saya nggak pernah menulis sebelumnya. Kalau untuk
membaca sih, itu sudah hal biasa bagi saya karena saya mempunyai banyak buku
bacaan di perpustakaan pribadi saya di rumah. Dibanding teman-teman seusia
saya, mungkin buku saya yang paling banyak. Hehe. Maka dari itu, saya mulai
menggeluti dunia pers mahasiswa ketika awal masuk kuliah. Namun berhubung saya
masih sibuk di UKM Bahasa waktu itu, satu tahun pertama di LPM Al Mizan itu
saya dibilang tidak begitu aktif, hanya aktif ketika ada acara atau agenda
tertentu saja.
Nah, mulai tahun
2018 ini saya ditunjuk menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di LPM Al Mizan. Jujur
saya agak nggak siap karena saya dulu nggak begitu aktif. Namun mau nggak mau,
akhirnya sayapun menuntut diri saya sendiri untuk banyak belajar hal-hal baru
disitu. Namun terkadang menjadi beban tersediri bagi saya, karena sebagai
pimpinan seharusnya memberikan contoh kepada bawahannya untuk tetap semangat
nulis. Akhirnya waktu 24 jam bagi saya semakin terasa singkat. Karena waktu
saya habis untuk membaca dan menulis. Disitu saya berusaha membuktikan kepada
teman-teman saya bahwa saya sebagai pemred ini memang pantas. Akhirnya saya
mencoba untuk terus menulis. Tulisan saya ini lebih kepada semacam esai ataupun
artikel. Untuk sastranya belum begitu mendalami.
Karena sebelumnya
saya belum pernah menulis, maka saya nekat dan mencoba hal baru dengan
mengikuti lomba menulis esai untuk membuktikan kepada teman-teman. Waktu itu diadakan
oleh Universitas Pekalongan (UNIKAL). UNIKAL mengadakan lomba esai tingkat
mahasiswa se-Jateng dan D.I.Y. Padahal itu tulisan pertama saya yang saya
ikutkan lomba, tapi ketika pengumuman ternyata saya masuk 10 besar bersama
teman-teman dari UNNES, UGM, IAIN Purwokerto, IAIN Salatiga, Univ Muhammadiyah
dan UIN SuKa Jogja. Senang bukan main ketika ternyata nama saya terpampang di
instragram UNIKAL bebarengan dengan mahasiswa yang beralmamater lebih keren lah
daripada kampus saya. hehe...Dari situ saya merasa bahwa sepertinya saya itu
punya bakat menulis. Buktinya saya baru nulis pertama kali kok bisa langsung
masuk 10 besar. Padahal pesertanya sekitar 90-an. Sekali lagi saya yakinkan
diri saya bahwa saya bisa. Yes, I can.
Tak hanya sampai
disitu, saya akhirnya selalu browsing lewat instagram untuk melihat
lomba menulis lagi. Pilihan saya jatuh untuk mengikuti lomba menulis esai
tingkat mahasiswa nasional yang diadakan oleh Institut Agama Islam Tribakti
Kediri. Saya selalu mendaftar lomba menulis itu yang gratis. Jadi kalau
misalkan saya tidak juara ya saya tidak begitu rugi karena tidak membayar biaya
pendaftaran. Justru sebaliknya ketika saya menang maka saya akan untung. Hehe..
bukannya apa-apa ya, maklumlah saya kan mahasiswa, realistis juga kalau lomba
menulis ini digunakan untuk mencari uang jajan tambahan. Hehe. Ehh akhirnya tak
disangka tak dinyana, saya mendapatkan notifikasi sekitar bulan Februari 2018 bahwa saya mendapat juara 2. Senang bukan
main. Keberuntungan masih saja dipihakku. Dan lagi lagi saya yakin akan
kemampuan saya, bahwa skill ini harus terus diasah. Jangan pernah bangga dengan
hasil yang sudah pernah dicapai. Kejar terus pantang mundur.
Pada bulan Maret
2018, Saya tak henti-hentinya mengikuti lomba. Kali ini saya mengikuti lomba
menulis artikel tingkat mahasiswa dan umum yang diadakan oleh STAIN Kediri. Sebenarnya
saya tidak begitu berharap akan mendapat juara kali ini. Karena saya menulis
pada malam hari, tepatnya habis Isya hari terkahir dikumpulkan dan dikirim ke
email penyelenggara. Hanya sekitar tiga jam mikir sambil browsing dan chatting-an
via whatsapp dengan orang yang saya suka (bukan pacar loh ya), akhirnya
tulisan saya jadi. Mau nggak mau harus dikirim malam itu juga. Jam 11 malam
saya mengirimkan tulisan saya.
Ting tong...
Seminggu setelah
pengiriman tulisan iu, tiba-tiba saya mendapatkan notifikasi di email bahwa
tulisan saya layak menjadi juara 1. Wow.. senang bukan main.. lagi lagi rasa
Pede ini semakin kuat. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam rumah kacanya :
Menulislah apapun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang
penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.
Ahh sepertinya
akan sangat panjang kalau saya ceritakan semua disini..
Ya sudah, mungkin
itu sedikit pengenalan dari saya.
Sekian Thank
You...