Senin, 27 Maret 2023

Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan

Gedung Sekolah Islam Al Azhar Pekalonga tampak depan


Hai everybody...

Bagi kalian yang mungkin masih bingung mencari Sekolah bagus di Kota Pekalongan, aku rekomendasiin ada sekolah yang bagus dari segi Fasilitas, Pelayanan dan Pembelajarannya. 

Terletak di Jl. Pelita II, Banyurip Pekalongan lah Sekolah itu berdiri. Yaitu Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan. Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan ini pertama kali dibangun pada tahun 2018 dan diresmikan oleh walikota Pekalongan pada 14 September 2019. Saat artikel ini ditulis, Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan berusia 3 tahun menuju 4 tahun.

Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan ini berada di bawah naungan Yayasan Sigma Mutiara Bunda. Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan ini memiliki 4 jenjang pendidikan dari KB (Playgroup), TK, SD dan SMP. Berikut nama sekolah :

KB Islam Al Azhar 63 Pekalongan

TK Islam Al Azhar 63 Pekalongan

SD Islam Al Azhar 60 Pekalongan

SMP Islam Al Azhar 60 Pekalongan

Nomor di belakang sekolah merupakan tanda bahwa sekolah ini merupakan sekolah mitra dari Sekolah Islam Al Azhar yang ada di Jakarta. 

Adapun fasilitas yang terdapat di Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan diantaranya :

1. Area Sekolah luas

2. Mushola

3. Ruang kelas ber- AC

4. Sarana Pembelajaran berbasis ICT (Smart TV, Komputer, LCD Proyektor, Wifi)

5. Unit Layanan Psikologi dan Bimbingan Konseling (ULPBK)

6. Lapangan Olahraga

7. Hall/Ruang Serbaguna

8. Kantin

9. Playground

10. Ruang UKS

11. Mini Zoo

12. Perpustakaan

13. Lab. Komputer

14. Lab. Bahasa

15. Lab. IPA

16. Amphitheatre

17. Ruang OSIS


Berikut aku lampirin juga ya brosur Tahun Pelajaran 2023-2024





Minggu, 26 Maret 2023

Wisata Waterboom Jogja - Jogja Bay

H-2 Menjelang puasa ramadhan 1444H tepatnya tanggal 21 Maret 2023, Saya mendampingi rombongan Ma'had Tahfidzul Qur'an Genuk Semarang berwisata atau rihlah kauniyah menuju Jogja. Salah satu tujuan wisatanya adalah Waterboom Jogja. Dulunya bernama Jogja Bay, namun sekarang berubah nama menjadi Waterboom Jogja. Tentunya karena wisata air, semua wahaha memiliki unsur air dalam hal ini setiap pengunjung wajib membaca baju ganti untuk basah-basahan.

Wahana Ombak

Oh ya, waterboom Jogja ini letaknya persis di seberang Stadion Maguwoharjo Jogjakarta. Atau teman-teman bisa langsung cari di google map ya. Waterboom Jogja ini merupakan waterboom terbesa ke dua di Indonesia. Selain itu, Waterboom Jogja juga telah tersertifikasi CHSE (Clean, Health, Safety, & Environment). Jadi sudah pasti bermain di wahana waterboom Jogja dipastikan aman dan nyaman. 

Salah satu wahana perosotan air
Pintu Masuk Wisata
Untuk tiket masuk teman perorangan dikenakan biaya 125 ribu rupiah. Teman-teman sudah bisa mencoba seluruh wahana, namun tidak termasuk sewa pelampung karet dan loker ya.

Di sini juga dilengkapi dengan adanya Museum Air, Resto dan Kedai Makanan, Toilet bersih dan nyaman. 




Senin, 08 Maret 2021

Menunggu Hujan Reda di Kafe Ceret Pekalongan


Hai bloggi, rasanya udah lama banget ya nggak berbagi cerita ke kamu. Jadi gini, kemarin aku ada acara buat sharing pengalamanku sewaktu jadi pemred di lembaga pers mahasiswa kampus tempat belajarku. Selesai acara sekitar pukul 1 dan 30 menit perjalanan aku menuju ke kota Pekalongan. Di sana aku bertemu dengan teman yang kebetulan janjian dan menghabiskan waktu sampai magrib. Kebetulan habis magrib rencana memang ada acara lagi. Tapi sayang sungguh sayang, ketika menjelang magrib Kota Pekalongan diguyur hujan lebat disertai angin kilap dan guntur. Finally kita kehujanan dan langsung mencari masjid tepat di daerah Perum Binagriya. Karena setelah sholat magrib kita nggak enak nunggu di masjid karena ada acara bapak2 berjanjinan atau marhabanan akhirnya kita menuju kafe ceret yang letaknya sebelah timur masjid sekitar 50 meteran mungkin. Disana kita orde coklat panas, wedang jahe sama nasi chiken teriyaki. Jujur ini ke dua kalinya ke Kafe Ceret. But so far tempatnya bersih, nyaman, okelah buat nongkrong dan menghabiskan waktu di saat hujan deras hehe.. Sampai akhir cerita ini, jujur ini karena kegabutan aja lagi pengen ngetik tapi bingung yang mau diketik apa. Ya udahh sejadinya.. It seems like I am doing story telling saat holiday di depan teman-teman satu kelasku saat SD dulu.. :D

Kamis, 21 Juni 2018

Berani Menulis, Berani Menyampaikan Gagasan




Judul              : Menulis Tanpa Rasa Takut
Penulis            : St. Kartono
Penerbit          : Kanisius
Cetakan          : 2016
Tebal              : 70 halaman
ISBN               : 978-979-21-2436-1

Ada sebuah adagium populer dalam dunia kepenulisan yang berbunyi ‘jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!’. Begitulah kata imam besar Al Ghazali yang begitu simple namun tajam dan mengena bagi yang membacanya. 

Walaupun sudah puluhan tahun Al Ghazali mengingatkan dan menganjurkan kita untuk menulis, nampaknya menulis masih dianggap susah khusunya bagi yang tidak terbiasa menulis. Namun menulis akan dianggap mudah bagi yang sudah terbiasa menulis. Menulis itu hak siapapun. “Siapapun bisa menulis asalkan dia banyak membaca dan berfikir,” kata Kartono (hlm 17)

Menulis adalah sebuah aktivitas yang kompleks, bukan hanya sekedar mengguratkan kalimat-kalimat, tetapi lebih daripada itu. Menulis adalah proses menuangkan pikiran dan menyampaikannya kepada khalayak (hlm 17).

Bagi yang hendak menekuni dunia tulis menulis, buku ini dirasa sangat cocok untuk dijadikan panduan menulis. St Kartono menuturan gagasannya dengan simple namun sangat mudah dipahami. Buku yang ditulis oleh kolomnis pendidikan asal Jogja ini terbagi menjadi empat chapter. 

Empat chapter tersebut membahas terkait pengetahuan dasar tentang pengertian menulis, manfaat menulis, kelebihan menulis, cara menemukan ide, cara menulis dan tentunya buku ini semacam jadi motivator bagi pembaca untuk lebih giat menulis.

Disamping bahasa yang disampaikan sederhana, halaman yang tidak terlalu tebal, penulis pun memberikan contoh tulisan-tulisannya sehingga mempermudah pembaca dalam memahami isi bukunya. Buku ini bisa dibilang mini namun berisi. 

Menulis memang dirasa cukup berat, terutama bagi yang memiliki segudang aktivitas yang tak pernah usai. Namun St Kartono tetap memberikan semangat kepada pembaca buku ini agar giat menulis. Karena menurutnya menulis merupakan sarana untuk menjadikan diri tidak biasa alias luar biasa.

Menulis membutuhkan keberanian karena tulisan harus membawa pencerahan. Dengan berani menulis berarti berani menyampaikan gagasan. Berani menyatakan pendapat meski mungkin bersebrangan dengan arus utama. Bukankah Newtonian, Marxian, hingga Geertzian terus mengalirkan pencerahan yang bahkan mendobrak pendapat arus utama di masa kegelapan? Maka menulislah! Karena menulis hanya perlu tiga modal, yaitu kemauan, pengetahuan, dan ketrampilan.

Seorang penulis bukanlah bertanding melawan orang lain, tetapi berlomba dengan dirinya sendiri. Yang dikalahkan adalah dirinya sendiri yang tidak mampu menyisihkan saldo waktu untuk duduk menulis. Itulah tantangan menulis yang berasal dari dalam diri sendiri (hlm 67).

Sabtu, 19 Mei 2018

Pendidikan dalam Kemasan


Tak terasa sudah tibalah musim penerimaan bagi peserta didik baru dalam dunia pendidikan, baik tingkat SD, SMP, SMA ataupun Perguruan Tinggi, atau dalam bahasa jawa biasanya orang menyebut unggah-unggahan. Kegiatan unggah-unggahan atau TA (Tahun Ajaran) baru ini merupakan kegiatan rutinan tiap tahun. Namun sepertinya kegiatan yang berlangsung tiap tahun ini mencerminkan wajah pendidikan yang bisa dikatakan dilematis. Terlihat pelbagai institusi pendidikan _baik negeri maupun swasta_ pasti berlomba-lomba untuk memberikan pemikat kepada calon peserta didik agar terpikat.
            Adapun cara untuk memikat calon peserta didik tersebut ialah dengan cara melalui iklan. Iklanlah yang menjadi modal utama. Sedangkan peserta didiklah yang menjadi sasaran bidikan utamanya. Namun memang untuk sekolah/kampus mutakhir ini membutuhkan iklan. Tanpa iklan mungkin sekolah/kampus akan kalah saing dalam memperoleh peserta didik dengan sekolah/kampus lainnya. Kasali (1994) menyebut iklan sebagai alat komunikasi.
            Dengan iklan juga bisa menjadikan sekolah/kampus itu lebih populer atau terkenal. Disinilah popularitas sebuah institusi pendidikan menjadi sebuah interpretasi yang bisa dikatakan penting. Maka tak heran jika sekarang banyak spanduk, pamflet, brosur dan baliho terpampang dan tersebar di berbagai tempat _utamanya di jalan raya_ dan tak jarang pula ada yang mengiklankan via koran, radio, maupun televisi.
            Kerap kali publik menilai kualitas sebuah institusi pendidikan dilihat dari (gambar) gedung yang megah, sarana dan prasarana yang (tertulis) lengkap, kegiatan pengembangan soft skill  (ekstrakulikuler ataupun intrakulikuler) yang mentereng banyak. Padahal Kasali (2007) menjelaskan bahwa periklanan adalah bagian dari bauran pemasaran yang secara sederhana dapat didefinisikan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat melalui media.
            Namanya juga iklan. Tujuan utama iklan ialah untuk promosi. Senada dengan Kotler (2002) yang menuturkan bahwa iklan adalah bentuk penyajian dan promosi jasa secara nonpersonal. Iklan pendidikan itu biasanya dibuat dengan design yang begitu menarik dan dengan kualitas gambar yang bagus. Berbicara soal biaya untuk iklan jelas tidaklah murah.
            Jika kualitas pendidikan sudah dibalut dalam kemasan yang sedemikian rupa, lalu bagaimana dengan realitas yang ada dalam institusi pendidikan tersebut? Sungguh ironi bukan ketika begitu lengkap fasilitas atau sarana prasarana yang tertera dalam iklan berlawanan dengan realitas yang ada dalam institusi pendidikan tersebut. Ruang kelas yang tidak layak, komputer yang terbatas, laboratorium yang tidak lengkap, perpustakaan yang kurang representatif, pengajar yang tidak sesuai dengan bidang keilmuan, mengindikasikan bahwa belajar hanya untuk mendapatkan nilai, ijazah atau titel dan hal itu bisa menciutkan makna dari belajar itu sendiri.
Kualitas yang Kuasi
            Jika sudah seperti itu, itu artinya institusi pendidikan hanya mengedepankan kuantitas yang dalam arti hanya memprioritaskan banyaknya jumlah peserta didik. Padahal institusi pendidikan haruslah menjadi pelopor utama dalam merepresentasikan tujuan negara Indonesia sebagaimana telah termaktub dalam pembukaan UUD 1945, yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
            Ironisnya, sekarang ini pendidikan sudah berada dalam kemasan. Kemasan (iklan) itu hanya dijadikan sebagai alternatif untuk mencari popularitas yang (kebanyakan) mengabaikan realitasnya. Padahal dalam pendidikan kita diajarkan untuk berbuat jujur, mengatakan apa adanya. Namun sayangnya jujur itu pahit. Sebagaimana Abu Dzar  pernah diberi wasiat oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk senantiasa berlaku jujur sekalipun terasa pahit, ia berkata: “Beliau  memerintahkan kepadaku untuk mengatakan yang benar walau itu pahit.” (HR. Ahmad)
            Namun ketika kita sudah beranjak ke sebuah periklanan, maka kejujuran atau kebenaran yang diajarkan dalam dunia pendidikan pun akan menjadi boomerang. Karena sudah bisa dipastikan bahwa semua institusi pendidikan tidak akan melakukan hal bodoh tersebut. Tentu saja mereka lebih memilih untuk menuangkan segala kebaikan dan keunggulan masing-masing institusi mereka ke dalam bentuk visual-literasi yang memikat. Karena bentuk visual-literasi yang begitu memikat inilah yang menjadikan publik wabilkhusus peserta didik belum bisa membedakan mana citra pendidikan dan realitas pendidikan. []

Kamis, 17 Mei 2018

Sapu Lidi Sapu Terorisme


Tepatnya hari dimana umat Kristiani melaksanakan ritual keagamaannya, ledakan bom itu terjadi lagi. Entah yang keberapa kalinya aksi ledakan bom bunuh diri di Indonesia ini dilakukan oleh orang-orang yang saya sendiri tidak habis pikir apa sebenarnya ideologi yang mereka anut. Rangkaian pengeboman yang baru-baru ini terjadi di Surabaya sungguh sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, pengemboman itu dilakukan di tiga tempat ibadah (baca: gereja) yang diledakkan secara bersamaan. Tragisnya pelaku pengeboman itu ialah satu keluarga yang memeluk agama Islam. Maka tak heran jika kemudian ada yang beranggapan bahwa ini adalah aksi radikalisme ataupun terorisme yang berlabelkan Islam.
            Berbicara terkait radikalisme Islam, radikalisme sendiri ialah gerakan yang berpandangan kolot dan sering menggunakan kekerasan dalam mengajarkan keyakinan mereka (Nasution, 1995:124). Sedangkan Islam adalah agama kedamaian yang mengajarkan sikap berdamai dan mencari perdamaian (Nurcholis Madjid, 1995:260). Maka terminologi radikalisme Islam sama sekali tidak selaras dan tidak seia sekata dengan arti dari radikalisme dan Islam itu sendiri.
            Islam sebagai agama dan sebagai doktrin selalu mengajarkan untuk hidup rukun, menyebarkan pesan ke-Tuhan-an kepada seluruh penduduk bumi bahwa setiap perbuatan perusakan dan kedzaliman sama sekali tidak dibenarkan. Islam mengajarkan tidak hanya soal hablumminallah saja melainkan juga hablumminannas. Bagaimana kita berinteraksi dan berkomunikasi dengan baik terhadap orang-orang di sekitar kita, baik sesama Islam maupun non Islam. Bahkan tidak hanya sampai disitu saja, Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad juga mengajarkan bagaimana seharusnya kita sebagai umatnya memperlakukan binatang dengan baik.
            Pernah suatu ketika Rasulullah melewati seekor unta yang punggungnya menempel dengan perutnya (artinya: kelihatan begitu kurus karena tidak terurus). Beliau bersabda “Bertakwalah kalian kepada Allah pada binatang-binatang ternak yang tak bisa berbicara ini. Tunggangilah ia dengan baik-baik, makanlah pula dengan cara yang baik.” (HR. Abu Daud)
            Begitulah wajah Islam yang sebenarnya, wajah Islam yang rahmatan lil alamin. Islam yang memberi rahmat kepada segala apa yang ada di alam ini. Sebagaimana Gusdur, dalam bukunya mengenai Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam, mengatakan bahwa Islam tidak mengajarkan kekerasan dan hal-hal yang sifatnya anarkis. Sehingga ketika ada kelompok tertentu yang melakukan aksi brutal dan anarkis dengan membombardir tempat ibadah umat agama lain sama sekali tidak bisa dikatakan Islam karena memang itu bukanlah Islam.
            Dengan diledakkannya ketiga bom itu dalam waktu yang bersamaan mengindikasikan bahwa sebenarnya jaringan teroris di Indonesia ini benar-benar nyata dan bukan hanya rekayasa semata. Gerakan-gerakan radikal ini harus segera ditumpas habis sampai ke akar-akarnya. Karena jika tidak, selain memakan banyak korban jiwa juga bisa menebarkan virus atau paham ideologi yang cacat. Dan mewabahnya ideologi yang cacat inilah yang sangat berbahaya karena bisa menyebabkan Indonesia mengalami kepailitan dalam membangun bangsanya.
            Nampaknya teroris itu kini semakin eksis dan optimis (bahwa mereka pasti masuk surga). Melihat semakin merajalelanya paham radikal ini, memang tidak mudah menumpasnya seperti kita menumpas pohon pisang. Lalu bagaimana agar kita bisa menumpas brutalisme, radikalisme, terorisme ini? Persatuan dan kesatuan mungkin itulah jawabannya. Dengan bersatunya semua elemen masyarakat baik TNI, POLRI, Ulama, pemerintah dan juga warganya untuk bersama-sama memerangi terorisme dan radikalisme tersebut. Negara tidak boleh kalah terhadap para teroris.
             Asas persatuan ini dirasa sangat perlu. Sedangkan asas persatuan dan kesatuan Indonesia tak lain ialah pancasila. Maka sudah seyogyanya kita kembali kepada pancasila.  Persatuan ibarat sapu lidi. Sapu lidi terdiri puluhan lidi. Satu lidi tidak akan bisa apa-apa karena satu lidi itu rapuh. Tetapi sapu lidi mampu menyapu apa saja karena sapu lidi sifatnya lebih kokoh daripada satu lidi. Maka jadilah sapu lidi untuk menyapu terorisme dan radikalisme. Jangan mau kalah dengan pasukan yang berani berjuang untuk mati. Sebaliknya kita harus berani berjuang untuk hidup. Keep fighting []
           

Jumat, 06 April 2018

Tentang Saya


Foto Arini Sabrina.

Oke, Namaku Arini Sabrina. Biasa dipanggil Rini kalo dirumah. Kalo di kampus ya dipanggil Arin atau Arini. Tapi ada beberapa dosen yang suka manggil saya Sabrina. Katanya lebih elegan kalo dipanggil Sabrina. Hehe..

Saat ini saya sedang belajar di IAIN Pekalongan, perguruan tinggi negeri  satu-satunya di Karesidenan Pekalongan. Sebenarnya nggak ada niatan untuk kuliah disini. Dulu justru saya pernah bilang saya mending gak usah kuliah kalau harus disuruh kuliah di IAIN Pekalongan (dulu dikenal dengan sebutan STAIN Pekalongan). Eh tapi akhirnya kemakan omongan sendiri. huhuhu

Dulu saya tuh udah lolos beasiswa BidikMisi di Universitas Negeri  Semarang, Waktu itu saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan pertama dan Akuntansi sebagai pilihan yang kedua. Namun sayang beribu sayang, orang tua saya nggak ngijinin saya kuliah di Semarang. Biasalah alasan klasik para orang tua nggak mau ditinggal jauh sama anaknya.  Wal hasil, ya sudahlah. Agak sedikit kecewa sama orang tua sih.

Dan pada akhirnya mau nggak mau saya harus berlabuh di IAIN Pekalongan. Saya daftar lewat jalur mandiri dan akhirya diterima. Saya orangnya paling malas kalo disuruh mengikuti OSPEC atau kalau di IAIN Pekalongan tahun saya dulu dinamakan dengan TASKA (Taaruf Studi Kampus). Saya pun memutuskan untuk tidak mengikuti TASKA. Jika teman-teman mahasiswa lain itu pada punya jas almamater, lain halnya dengan saya. Hingga semester 4 ini saya belum punya jas almamater kampus loh. Banyak yang bilang kalau saya ini mahasiswa ilegal karena nggak punya jas almamater. Tapi lagi-lagi, saya gak suka peduli dengan omongan orang lain. 

Nah, di jurusan yang saya ambil kebetulan belajar tentang dunia penyiaran alias broadcast. Itu dunia yang menurut saya sangat baru dan karena saya agak gaptek jadi ya agak merasa gimana gitu. Tapi justru disitulah tantangan bagi saya untuk belajar lebih giat lagi dan mengenal banyak hal baru. Karena saya selalu memberikan stempel bagi diri saya sendiri bahwa saya adalah “someone with full of motivation to learn new things”. Jadi mau nggak mau saya harus selalu belajar terus. 

Mungkin berbeda dengan teman-teman satu jurusan yang lain, yang mana mereka lebih aktif di himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) sedangkan saya lebih memilih aktif di organisasi intra kampus. Saya aktif di dua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Pertama saya mengikuti UKM Bahasa, karena disitu saya bisa mengembangkan dan mengaplikasikan dan berinteraksi dengan teman-teman dengan menggunakan bahasa Arab dan juga bahasa Inggris. Dengan mengikuti UKM Bahasa ini, dulu ketika tahun 2017 saya dipilih menjadi delegasi Lomba Debat Bahasa Inggris Tingkat Nasional mewakili IAIN Pekalongan di Universitas Islam Negeri Ar Raniry Banda Aceh. Saya senang mengikuti kompetisi semacam itu. 

Berawal dulu ketika saya masih duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA) saya dipilih mewakili sekolah saya mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Selain itu juga saya biasa mengikuti lomba pidato Bahasa Arab dan Bahasa Inggris tingkat Kabupaten di Pemalang tiap tahun dan selalu mendapatkan juara. Maka tak heran, ketika saya baru menginjak semester 2, saya langsung direkrut menjadi pengurus di UKM Bahasa periode 2017 menempati posisi dibidang Pemberdayaan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM). Dan untuk tahun 2018 ini, saya menjabat sebagai Sekretaris I di UKM Bahasa tersebut.

Kedua, saya mengikuti UKM Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al Mizan. UKM yang berfokus kepada dunia tulis menulis. Jujur saya nggak pernah menulis sebelumnya. Kalau untuk membaca sih, itu sudah hal biasa bagi saya karena saya mempunyai banyak buku bacaan di perpustakaan pribadi saya di rumah. Dibanding teman-teman seusia saya, mungkin buku saya yang paling banyak. Hehe. Maka dari itu, saya mulai menggeluti dunia pers mahasiswa ketika awal masuk kuliah. Namun berhubung saya masih sibuk di UKM Bahasa waktu itu, satu tahun pertama di LPM Al Mizan itu saya dibilang tidak begitu aktif, hanya aktif ketika ada acara atau agenda tertentu saja.

Nah, mulai tahun 2018 ini saya ditunjuk menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di LPM Al Mizan. Jujur saya agak nggak siap karena saya dulu nggak begitu aktif. Namun mau nggak mau, akhirnya sayapun menuntut diri saya sendiri untuk banyak belajar hal-hal baru disitu. Namun terkadang menjadi beban tersediri bagi saya, karena sebagai pimpinan seharusnya memberikan contoh kepada bawahannya untuk tetap semangat nulis. Akhirnya waktu 24 jam bagi saya semakin terasa singkat. Karena waktu saya habis untuk membaca dan menulis. Disitu saya berusaha membuktikan kepada teman-teman saya bahwa saya sebagai pemred ini memang pantas. Akhirnya saya mencoba untuk terus menulis. Tulisan saya ini lebih kepada semacam esai ataupun artikel. Untuk sastranya belum begitu mendalami. 

Karena sebelumnya saya belum pernah menulis, maka saya nekat dan mencoba hal baru dengan mengikuti lomba menulis esai untuk membuktikan kepada teman-teman. Waktu itu diadakan oleh Universitas Pekalongan (UNIKAL). UNIKAL mengadakan lomba esai tingkat mahasiswa se-Jateng dan D.I.Y. Padahal itu tulisan pertama saya yang saya ikutkan lomba, tapi ketika pengumuman ternyata saya masuk 10 besar bersama teman-teman dari UNNES, UGM, IAIN Purwokerto, IAIN Salatiga, Univ Muhammadiyah dan UIN SuKa Jogja. Senang bukan main ketika ternyata nama saya terpampang di instragram UNIKAL bebarengan dengan mahasiswa yang beralmamater lebih keren lah daripada kampus saya. hehe...Dari situ saya merasa bahwa sepertinya saya itu punya bakat menulis. Buktinya saya baru nulis pertama kali kok bisa langsung masuk 10 besar. Padahal pesertanya sekitar 90-an. Sekali lagi saya yakinkan diri saya bahwa saya bisa. Yes, I can.

Tak hanya sampai disitu, saya akhirnya selalu browsing lewat instagram untuk melihat lomba menulis lagi. Pilihan saya jatuh untuk mengikuti lomba menulis esai tingkat mahasiswa nasional yang diadakan oleh Institut Agama Islam Tribakti Kediri. Saya selalu mendaftar lomba menulis itu yang gratis. Jadi kalau misalkan saya tidak juara ya saya tidak begitu rugi karena tidak membayar biaya pendaftaran. Justru sebaliknya ketika saya menang maka saya akan untung. Hehe.. bukannya apa-apa ya, maklumlah saya kan mahasiswa, realistis juga kalau lomba menulis ini digunakan untuk mencari uang jajan tambahan. Hehe. Ehh akhirnya tak disangka tak dinyana, saya mendapatkan notifikasi sekitar bulan Februari 2018  bahwa saya mendapat juara 2. Senang bukan main. Keberuntungan masih saja dipihakku. Dan lagi lagi saya yakin akan kemampuan saya, bahwa skill ini harus terus diasah. Jangan pernah bangga dengan hasil yang sudah pernah dicapai. Kejar terus pantang mundur.

Pada bulan Maret 2018, Saya tak henti-hentinya mengikuti lomba. Kali ini saya mengikuti lomba menulis artikel tingkat mahasiswa dan umum yang diadakan oleh STAIN Kediri. Sebenarnya saya tidak begitu berharap akan mendapat juara kali ini. Karena saya menulis pada malam hari, tepatnya habis Isya hari terkahir dikumpulkan dan dikirim ke email penyelenggara. Hanya sekitar tiga jam mikir sambil browsing dan chatting-an via whatsapp dengan orang yang saya suka (bukan pacar loh ya), akhirnya tulisan saya jadi. Mau nggak mau harus dikirim malam itu juga. Jam 11 malam saya mengirimkan tulisan saya. 

Ting tong...
Seminggu setelah pengiriman tulisan iu, tiba-tiba saya mendapatkan notifikasi di email bahwa tulisan saya layak menjadi juara 1. Wow.. senang bukan main.. lagi lagi rasa Pede ini semakin kuat. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam rumah kacanya : Menulislah apapun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.

Ahh sepertinya akan sangat panjang kalau saya ceritakan semua disini..
Ya sudah, mungkin itu sedikit pengenalan dari saya. 

Sekian Thank You...

Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan

Gedung Sekolah Islam Al Azhar Pekalonga tampak depan Hai everybody... Bagi kalian yang mungkin masih bingung mencari Sekolah bagus di Kota P...