Minggu, 12 November 2017

Resensi


Masih Berani Nikah Beda Agama?

Image result for hukum perkawinan islam buku mahmudin bunyamin 2017


Judul Buku      : Hukum Perkawinan Islam
Penulis             :Mahmudin Bunyamin dan Agus Hermato
Penerbit           : CV Pustaka Setia
Terbit               : Februari 2017
Tebal               : 212 Halaman
ISBN               : 978-979-076-655-6
Peresensi         : Arini Sabrina

            Meski sejak tahun 80an MUI (Majelis Ulama Indonesia) sudah memfatwakan bahwa nikah beda agama hukumnya haram, namun tetap saja nikah beda agama ini terus gencar dan menjadi topik pembahasan yang tak pernah usai. Itu semua dikarenakan kebutuhan manusia tidak dapat terbendung untuk menyatu dalam biduk rumah tangga. Ditambah lagi adanya fitrah manusia yang memiliki rasa cinta terhadap lawan jenis dan atas dasar cinta itulah mereka terdesak untuk menyatukan cinta dalam sebuah payung bernama pernikahan.
            Pernikahan atau perkawinan merupakan jalan untuk menyalurkan naluriah manusiawi, untuk memenuhi nafsu syahwatnya dengan tetap memelihara keselamatan agama. Lantas keselamatan agama seperti apa? Karena faktanya agama tidak hanya satu. Agama adalah doktrin yang mana setiap agama mempunyai ajaran-ajaran tersendiri. Namun penikahan beda agama ini sangat kontroversial sekali, apalagi di Indonesia. Tak sedikit masyarakat yang resah dan bingung bagaimana sebenarnya hukum nikah beda agama terutama orang yang memeluk Islam. Namun tak sedikit juga yang acuh tak acuh terhadap problematika nikah beda agama.
            Dari keresahan dan kebingungan tersebutlah penulis terdorong untuk turut berkontribusi melalui buku ini dengan membantu mengarahkan pembaca bagaimana sebenarnya pandangan Islam terhadap nikah beda agama. Tentunya penulis juga tidak bisa terlepas dari yang namanya Al Quran dan Al Hadits sebagai pedomannya. Buku ini menekankan kepada mafsadat dan mudarat dari tindakan nikah beda agama.
            Adapun penulis mengungkapkan mafsadat dan mudarat nikah agama yakni ditinjau dari dua aspek. Aspek yang pertama dilihat dari segi akidah. Dari segi akidah disebutkan bahwa orang kafir akan selalu mengajak kepada kekafiran dan mengajak ke neraka juga hilangnya sumber kebahagiaan. Kedua dilihat dari segi syariat. Terdapat empat poin didalamnya yaitu nikah beda agama sama dengan zina, tidak adanya pahala ibadah, hukum anak (hak nafkah, perwalian) dan hukum waris (hilangnya hak waris).
            Mari kita telisik lebih dalam aspek yang berkaitan dengan akidah dilarangnya pernikahan beda agama. Sebab dari sinilah kita akan lebih mengetahui sejauh mana agama (khususnya Islam) mengatur permasalahan tersebut. Menurut Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Al Munir, telah diharamkan pernikahan Muslim dan musyrik ataupun Muslim dengan kafir. Orang musyrik dan juga orang kafir tidak memiliki agama yang benar yang dapat membimbing mereka dan tidak memiliki pedoman menuju jalan yang benar. 
            Selain itu dalam Al Quran surat At Tahrim ayat 6 dan surat Al Baqarah ayat 211 bahwa Ibnu Katsir menjelaskan tentang larangan menikah beda agama, “mereka mengajak ke neraka”, baik hidup dan berkumpul dengan mereka memotivasi untuk mencintai dan mementingkannya atas kepentingan akhirat. Agama itu sangat penting karena memiliki istri yang beragama sangatlah mahal. Dalam Islam, wanita saleh adalah perhiasan dunia. Adapun memiliki istri yang beragama merupakan kebahagiaan dan keberkahan hidup, tutur Ibnu Katsir. (hlm.173)
            Namun tidak hanya berbicara soal mafsadat dan mudarat saja, penulis juga sedikit menyinggung mengenai hikmah dibolehkannya nikah beda agama/ ahli kitab. Penulis menyebutkan bahwa orang Islam boleh menikah beda agama namun harus dengan maksud dan tujuan tertentu. Maksud dan tujuan tersebut ialah dakwah. Karena dengan perkawinan terjadilah percampuran dan pendekatan keluarga satu dengan yang lainnya sehingga hal ini memberikan kesempatan untuk dapat mempelajari dan menyebarkan agama Islam.
            Dengan hadirnya buku Hukum Perkawinan Islam yang juga menjelaskan tentang hukum nikah beda agama, maka kita berharap agar orang Islam dapat mengetahui dan memilih keputusan yang tepat sebelum melangsungkan pernikahan dengan orang yang memiliki keyakian berbeda.
            Meski dibeberapa pembahasan terkesan kurang mendalam dan bersifat normatif, buku ini layak untuk anda yang berani atau hendak melangsungkan pernikahan beda agama. Layak juga bagi anda para mahasiswa, akademisi atau siapapun anda yang ingin mengetahui Hukum Perkawinan Islam. Bacalah dan jadilah orang yang mengetahui hukum agar hidup kita tertata rapih dan tentunya bahagia.  

Pendidikan



Cermin Pendidikan Indonesia ‘Bohong Itu Halal’
Berbincang masalah kemajuan bangsa Indonesia saat ini tentunya tidak dapat dipisahkan dengan yang namanya pendidikan Indonesia itu sendiri. Pendidikan merupakan salah satu anasir primer kewibawaan sebuah bangsa ataupun negara didapatkan. Dengan adanya edukasi yang benar-benar mengedukasi pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter dan kompeten dibidangnya. Sehingga kondisi bangsa akan terus mengalami rekonstruksi dengan adanya para generasi penerus bangsa yang cakap dalam berbagai lini.
Namun sepertinya ketika kita melongok realitas yang ada, pendidikan di Indonesia nampaknya belum bisa dikatakan berhasil dalam mencapai tujuannya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. Itu artinya pendidikan di Indonesia saat ini dalam keadaan genting. Negara yang kaya akan sumber daya alamnya jika tidak diimbangi dengan sumber daya manusianya maka negara itu tidak bisa dikatakan maju. Hal ini persis terjadi di Indonesia.
Walakin tidak berlaku sebaliknya. Jika negara itu tidak mempunyai sumber daya alam yang melimpah ruah namun memiliki sumber daya manusia yang mumpuni maka negara itu bisa saja menjadi negara maju. Kasus seperti ini terjadi seperti halnya negara Singapura. Dari kedua negara ini dapat dilihat  bahwa terdapat distingsi yang amat jelas mengenai sumber daya manusianya. Dilansir dari www.bbc.com Lee Kuan Yew yang dijuluki sebagai bapak kemajuan Singapura mengatakan bahwa kualitas sumber daya manusia suatu negara adalah faktor tunggal terpenting yang menentukan kompetitif suatu negara. Karenanya, sistem pendidikan menjadi hal sangat vital dan harus menjadi fokus bagi negara-negara berkembang yang ingin mendapatkan perubahan radikal.
Berbicara mengenai sistem pendidikan maka kita sebagai bangsa Indonesia pasti sudah merasakan dan melihat bagaimana keadaan pendidikan kita saat ini. Apalagi bagi kaum pelajar dan akademis khususnya para penerus bangsa para mahasiswa. Jika pendidikan itu identik dengan segala hal yang baik-baik namun nampaknya pendidikan sekarang sudah terintervensi dengan hal yang tidak baik. Iya, adanya kebohongan dalam pendidikan lah contohnya.
Kebiasaan berbohong nampaknya sudah menjadi anomali yang lumrah kali ini. Berbohong hanya dianggap dosa kecil yang tidak terlalu berefek apa-apa. Namun anehnya kebiasaan berbohong ini sudah mendarah daging. Sangat ganjil pula ketika yang berbohong itu tau bahwa sejatinya berbohong itu dilarang dalam agama. Terlepas dari agama apapun itu. Terlebih lagi adanya kebohongan dalam dunia pendidikan.
Bindam ditubuh pendidikan Indonesia karena perilaku berbohong masih terasa. Semoga rasa nyerinya tak segera musnah agar kita bisa siuman bahwa keadaan pendidikan saat ini masih krisis. Lantas kapan kita bisa siuman dan sadar sementara generasi muda sudah diajarkan berbohong dalam dunia pendidikan. Misal saja, dulu ketika saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Ketika menghadapi UN (Ujian Nasional), saya melihat para guru pada sibuk untuk melakukan kemungkaran berjamaah. Iya, berbohong berjamaah maksudnya.
Berbohong dalam rangka membantu siswa-siswanya agar bisa lulus 100% dan agar nama almamater sekolahpun bereputasi baik. Jujur saja,  ketika diberi bocoran itu ya saya terima saja. Toh ini juga atas perintah dari Bapak Ibu guru, teman-teman juga mau melakukan kebohongan itu. Setelah saya masuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ketika saya duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA) ternyata juga sama. Memberikan bocoran disaat UN dan tindakan tidak jujur itu masih terus berkembangbiak dengan subur. Tak hanya di sekolah negeri, sekolah swasta Islam pun melakukan kebohongan berjamaah. Tidak ada bedanya. Seolah seperti itulah refleksi dunia pendidikan kita saat ini dan bahkan sudah menjamur seperti itu adanya. Saya rasa semua orang pun tau.
Itu hanya ditingkat SMP dan SMA, belum lagi yang di Perguruan Tinggi. Saat ini saya duduk di bangku kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri di Jawa Tengah. Ternyata kebohongan itupun masih terus berlanjut. Berhubung saya aktif di beberapa organisasi intra kampus maka saya terbiasa menghadap para pejabat tinggi kampus. Contoh saja ketika salah satu UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) ingin mencairkan dana DIPA (Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran) untuk kegiatan, tak heran disitu ada banyak manipulasi dan kebohongan. Dari awal membuat proposal, mengajukan proposal, hingga tahap membuat LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban).
Bahkan tak heran, terkadang justru dari pejabat tinggi kampusnya yang mendorong kita selaku mahasiswa untuk tidak berkata apa adanya dan mengajarkan manipulasi. Terkadang juga organisasi itu sendiri yang mengajarkan untuk menulis di proposal A dan realitasnya B. Atau bahasa organisasinya itu ya bahasa proposal, hanya formalitas saja. Namun menurut saya, hal sekecil ini menjadi krusial.
Belum lagi ketika saya mengikuti lomba PIONIR (Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset) ke 8 tahun 2017 tingkat PTKIN Nasional, sudah bisa dipastikan bahwa yang menjadi juara umum pasti tuan rumah. PIONIR sebelum-sebelumnya juga seperti itu. Dan berangkat dari itu semua, kadang saya sendiri bingung. Padahal Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, kok ya seperti itu. Lantas yang bukan Perguruan Tinggi Keagamaan itu bagaimana.
 Teringat kasus beberapa waktu lalu yang sempat gencar atas kasus kebohongan seorang mahasiswa yang pernah dijuluki the next Habibie. Tentunya kasus itu sangat memalukan bukan. Kasus itu justru membuat reputasi pendidikan Indonesia ini semakin terpuruk dan dipandang sebelah mata oleh dunia. Ditambah lagi dengan adanya berita doktor karbitan ala UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Belum lagi kasus mega korupsi e-ktp yang terkenal dengan korupsi berjamaah ini. Anehnya kasus korupsi yang diduga melibatkan ketua DPR ini belum juga usai dan nampaknya juga akan berbuntut panjang. Ditambah lagi adanya keputusan dari KPK yang menetapkan ketua DPR untuk kedua kalinya sebagai tersangka setelah beberapa waktu sebelumnya juga menyandang status tersangka. Itulah wajah pendidikan kita saat ini yang dipandang dunia. Semrawut.
 Saya rasa, negara ini akan ambruk disebabkan oleh orang-orang yang korup dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan (termasuk dengan jalan berbohong). Namun saya juga tidak sepenuhnya menyalahkan para koruptor itu. Karena menurut saya para koruptor itu merupakan produk / hasil dari pendidikan Indonesia selama ini. Walaupun memang tentu tidak bisa dipukul rata. Saya pun tidak sepenuhnya mendiskreditkan seluruh pengajar baik guru maupun dosen di Indonesia.
Lalu apakah sebenarnya dari pihak Kementerian Pendidikan selaku pihak yang berwenang mengetahui aneka macam bentuk kebohongan yang ada dalam dunia pendidikan selama ini? Jika memang tidak, kok rasanya tidak mungkin. Atau bahkan kebiasaan berbohong ini memang sudah tersistem dari Kementerian Pendidikan itu sendiri?
Jika memang kebiasaan berbohong itu sudah berbudaya dan dianggap lazim maka sungguh ironis sekali pendidikan kita selama ini. Mungkin saja pendidikan kita tergiur dengan proses pendidikan diluar negeri sana yang sudah sangat fantastis. Hingga membuat kita tidak sabar dan lupa bahwa proses itulah yang paling penting. Maka sadar atau tidak sadar pendidikan kita ini memformat sistem pendidikan yang pragmatis dan instan. Maka mau tidak mau dan tak dapat dipungkiri pendidikan kita akan menghasilkan lulusan yang pragmatis dan juga tentunya instan. Bentuk rilnya ya para koruptor itu.
Dari beberapa kasus yang saya paparkan diatas, maka tak heran masyarakat luas bisa saja berspekulasi bahwa pendidikan di Indonesia menghalalkan berbohong. Jika sudah seperti ini, citra Indonesia jelek dimata dunia. Boleh saja dunia melirik Indonesia namun hanya melirik sumber daya alamnya saja tapi yakinlah bahwa dunia juga pasti akan sungkan melirik Indonesia terutama orang-orangnya karena sumber daya manusianya yang rendah. Bagaimana kok bisa dunia menilai bahwa sumber daya manusia Indonesia itu rendah, gampang saja mereka melihat dari pendidikannya seperti apa.
 Lantas siapa yang hendak mereformasi pendidikan kita agar lebih menghargai proses jika tidak kita sendiri. Meminjam istilah dari Anonimous bahwa  bad habbits are easy to make, but extremely hard to end. Good habbits, on the other hand, tend to take more time to make, yang artinya kebiasaan-kebiasaan buruk (termasuk berbohong) itu mudah dilakukan tetapi sungguh sangat sulit untuk diakhiri/dihilangkan. Sedangkan kebalikannya kebiasaan baik cenderung membutuhkan waktu yang lama untuk dilakukan.
Apakah kita sebagai bangsa Indonesia hanya diam saja melihat negara tetangga dan melihat negara-negara lain sudah maju. Sedangkan kita hanya beristirahat ditempat tanpa adanya usaha untuk menjadi seperti mereka atau bahkan lebih. Apakah ada hasrat kita untuk maju? Atau justru kita sudah PW (Posisi Wenak) dalam keadaan sekarang? Keadaan yang dibilang sebagai negara berkembang. Jika kita ingin maju maka marilah bersama-sama selamatkan Indonesia. Selamatkan pendidikan Indonesia. Nelson Mandela pernah berkata education is the most powerful weapon which you can use to change the world. Untuk merubah dunia maka pendidikanlah senjata yang paling kuat. Ketika ingin merubah Indonesia, maka pendidikan pulalah yang menjadi senjata paling kuat. Pendidikan seperti apa? Tentunya pendidikan yang baik. Pendidikan yang jujur. Pendidikan yang menjunjung tinggi proses. Mulailah jujur dari sekarang and let’s make good habbits.

Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan

Gedung Sekolah Islam Al Azhar Pekalonga tampak depan Hai everybody... Bagi kalian yang mungkin masih bingung mencari Sekolah bagus di Kota P...