Senin, 21 Agustus 2017

Poetry



You Leach My Heart

Night’s getting late
My eyes can not be closed
Small lantern escorts me
In the nook of a lonesome space
I’m leaving the end of my days here
Among the fluffy blanket heating my body
A deep breath takes off my mind
At glance, your shadow presents next to me
You finger me with your fingertip
Your presence treats the thirst of my longing
Hi Man, you know
This sense is like the water flowing into its mouth
Where you and I dragged in the sama stream
There, we are united
Even though coming from different places
Giving color to the lake blossomed in love

Artikelku



Semua Berbicara Nasionalisme, Lalu Apa Kata Pesantren?

Genap 72 tahun sudah Indonesia merdeka. Tentunya kita sebagai warga Negara Kesatuan Republik Indonesia berbahagia dengan kemerdekaan yang sudah bisa kita nikmati sekarang ini dan suatu kepatutan bagi kita semua untuk  mensyukurinya. Seiring bertambahnya usia, tentunya Indonesia tidak hanya berpangku tangan dan merasa puas dengan segala hal yang sudah dicapai hingga saat ini. Masih banyak PR yang harus dikerjakan agar negara ini menjadi negara yang bisa berrevolusi ke arah yang lebih baik, maju dan bisa berkompetisi dengan negara-negara lain. PR-PR itupun bukan hanya menjadi PR bagi presiden atau pemerintah saja, melainkan seluruh warganya.
Tepatnya 17 agustus 2017 lalu, upacara kemerdekaan dilaksanakan di Istana Merdeka dengan khidmat. Upacara tersebut dihadiri oleh semua pejabat dan aparat negara juga seluruh mantan presiden dan wakil presiden. Namun tidak seperti upacara-upacara sebelumnya, upacara kemerdekaan tahun ini terlihat lebih istimewa karena para tamu istana diminta mengenakan kostum adat tradisional. Konsep yang dirancang oleh presiden dan wakil presiden ini bukan tidak bermaksud apa-apa, melainkan untuk menunjukkan bahwa Indonesia itu beraneka ragam.
Konsep ini ada karena permasalahan belakangan ini yang marak mengenai radikalisme, separatisme, dan konflik-konflik yang berbau sara muncul, yang mana itu semua akan mengancam keutuhan NKRI. Bermula dari aksi demo ormas FPI terhadap gubernur DKI Jakarta kala itu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dengan dalih pelecehan Al Qur’an surat Al Maidah ayat 51. Tidak hanya ormas FPI, seluruh warga negara Indonesia dari berbagai daerah khususnya yang beragama Islam berbondong-bondong ke Jakarta hanya untuk membela kitab suci agama mereka yang katanya dinistakan. Selanjutnya berbagai teror bom pun di luncurkan dengan mengarah ke tempat peribadatan, public place, dan juga markas keamanan negara hingga banyak korban berjatuhan dari makhluk mungil yang tak berdosa hingga para penjaga keamanan negara (polisi). Ditambah adanya organisasi islam radikal (seperti HTI) yang pahamnya berlawanan dengan ideologi negara terus berkembang dan memberikan doktrin yang non pancasilais dan anti demokrasi kepada warga Indonesia sebelum akhirnya dibubarkan. Dilanjut dengan maraknya cercaan, makian, olokan, ejekan, dan hinaan yang tak henti-hentinya beredar di media sosial serta masih banyak kasus lain yang jika tidak segera diakomodir dengan baik pecah sudahlah Indonesia menjadi puing-puing yang tak tertata.
Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman inilah maka permasalahan yang harus ditangani oleh bangsa Indonesia semakin beragam. Terutama persoalan yang harus di hadapi dan dijawab oleh dunia pendidikan, termasuk salah satu lembaga yang sangat intens membantu peningkatan mutu SDM yang berkaitan dengan moralitas dan spiritualitas yaitu pesantren. Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia yang eksistensinya tidak terlepas dari proses masuknya agama Islam di Indonesia. Maka tidak heran jika pesantren diidentikkan dengan keislaman dan ajarannya yang ortodoks. Hingga saat ini, pesantren merupakan lembaga yang senantiasa berusaha konservatif terhadap demoralisasi dan dehumanisasi yang diharapkan mampu menjadi penarik perubahan sosial yang lebih baik dan kondusif di era global ini.
Menilik sejarah pesantren, pesantren eksis karena buah hasil dari perlawanan para pemuka agama (ulama) dalam menentang diskriminasi dan segala macam bentuk penindasan. Bermula dari kebijkan Belanda kala itu yang menerapkan pendidikan modern berkonsepkan pada stratifikasi sosial. Pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk menimba ilmu agama, melainkan juga sebagai tempat untuk menggembleng para pejuang bangsa serta menumbuhkan patriotisme dan nasionalisme. Lahirnya 10 November di Surabaya adalah salah satu bukti yang eviden bahwa semangat juang dan gelora melawan serta mengusir penjajah tumbuh dari tempat para santri yang tak lain dan tak bukan ialah pesantren.
Kembali kepada persoalan yang dihadapi oleh bangsa ini ialah terjadinya disintegrasi disebabkan oleh kelompok atau golongan tertentu yang radikal dan separatis serta rendahnya rasa cinta terhadap negara (nasionalisme). Sedangkan perlu kita ketahui bahwa salah satu syarat membangun nasionalisme suatu bangsa ialah melalui pengembangan SDM yang berkualitas. Dengan pendidikan yang berkualitas maka akan menghasilkan output yang berkualitas pula. Pendidikan yang dirasa berkualitas saat ini salah satunya ialah pendidikan di pesantren. Bagaimana tidak dikatakan sebagai suatu lembaga pendidikan yang berkualitas, di pesantren para santri mendalami ilmu agama yang diajarkan oleh para ustadz, kyai juga para pengurusnya. Di pesantren pula, para santri terbiasa hidup bersama, terbiasa melaksanakan kebaikan seperti menghargai dan menghormati sesama santri (toleransi/tasamuh), saling menolong, sopan santun, tata krama, disiplin, sabar, istiqomah, berbakti kepada orang tua, guru dan lain sebagainya.
Nilai-nilai luhur seperti itulah yang pesantren ajarkan kepada santri-santrinya. Nilai paling vital yang diajarkan diantara nilai-nilai lainnya yakni nilai yang bersumber dari Al qur’an. Secara gamblang Alqur’an membeberkan tentang keragaman. Keragaman bahasa dan warna kulit yang tercantum dalam qs.Ar Rum ayat 22, dan juga keragaman suku dan bangsa yang tercantum dalam qs.Al Hujurat ayat 13. Maka tidak heran, santri yang belajar di pesantren yang datang dari berbagai daerah dengan beragam suku, dialek, bahasa, ras, serta berasal dari strata sosial yang berbeda bisa hidup bersama dan berdampingan secara damai tanpa takut terjadi gesekan. Hal itu merupakan hasil dari sebuah implementasi dan habituasi dari nilai-nilai ajaran agama yang mereka pelajari di pesantren. Justru dengan keragaman santri yang datang dari berbagai wilayah di Indonesia dengan membawa ciri khas daerah masing-masing akan menjadi semakin unik untuk membangun multikulturalisme di pesantren dimana hal tersebut akan sangat membantu terbentuknya semangat nasionalisme di kalangan pesantren dan tentunya di negara Indonesia.
Maka secara sadar atau tidak, pesantren telah mengajarkan kepada santri-santrinya akan pentingnya berwawasan keislaman yang inklusif serta bersikap demokratis, humanis dan juga pluralis. Pesantren merupakan sebuah realitas pendidikan multikultural. Karena dengan pendidikan multikultural itulah para santri sadar akan keragaman di Indonesia, sehingga mereka tidak akan pernah mempermasalahkan hal-hal yang berbau sara seperti apa yang terjadi akhir-akhir ini. Namun perlu di waspadai bahwa keragaman juga bisa menjadi pemicu konflik jika tidak terakomodir dengan baik.
Maka jika berbicara mengenai nasionalisme, pesantren sudah berbicara tentang nasionalisme terlebih dahulu. Tidak hanya berbicara namun juga mengimplementasikan nasionalisme itu sendiri. Sehingga jika nasionalisme itu sudah tertanam di hati masing-masing warga NKRI, bukan suatu hal yang mustahil jika disintegrasi yang terjadi belakangan ini tidak akan pernah ada, karena setiap warga negara sadar akan pluralitas. Bukankah taman bunga akan terlihat menawan jika didalamnya terdapat berbagai macam warna bunga? Bukankah pelangi itu indah dipandang karena kombinasi warnanya?


(perbedaan itu indah, yang tidak indah itu jika mempermasalahkan perbedaan tadi)
By: arini sabrina / mhs kpi 2016


Jumat, 18 Agustus 2017

Memoar Menghafalku



­­Memoar Menghafalku

Memoar yang akan aku ceritakan disini merupakan pengalaman pribadi ketika menghafal Qur’an. Entah kenapa aku juga nggak ngerti kenapa aku menghafal Al Qur’an, dan apa tujuanku menghafal Al Quran. Mungkin bagi temen2 sempet atau bahkan ada yang berfikir ngapain sih menghafal Alquran. Al quran itu kan kitab yang tebel. Mana mungkin bisa dihafal diluar kepala. Buang2 waktu aja. Atau bahkan ada yang berfikir karena belum dapat hidayah dan ngerasa nggak pantas buat menghafal Alquran jadi selalu mengurungkan niat baik itu. Trus ada juga yang beranggapan karena tau katanya kalo lupa hafalan itu dosa besar, jadi takut buat ngafal. Atau bahkan juga ada yang dilarang orang tua untuk tidak menghafal Al Quran, Loh ko bisa ya orang tua ngelarang buat ngafal Al Quran, nggak usah kaget deh guys karena memang ada ko yang seperti itu. Oh yahh, sebelum melangkah lebih jauh, mulai deh  ceritaku kenapa aku bisa sampai ngafal Al quran.
Jadi gini guys, waktu aku masih duduk di bangku Madrasah Aliyah tepatnya kelas 11 Aliyah aku mulai masuk ke pesantren. Tapi perlu temen2 tau, kalo dulu aku nggak di bolehin buat mondok sama orang tuaku. Alasannya sih karena aku sudah biasa ngaji tiap habis asar dan habis magrib di pondok yang ada di desa tempatku tinggal. So, menurut mereka nggak usah lah mondok. Ngabisin uang, terus mereka juga akan jarang ketemu sama aku. Dan tau nggak sih guys, menurutku sih orang tuaku itu parah banget. Masa iya Cuma jarak kurang lebih 5 km dari rumah ke pondok yang akan jadi tempat belajarku masa iya nggak boleh. Lucu kan, anehnya lagi, ayahku itu sampe nangis waktu aku udah mulai tinggal di pondok. Jarang2 kan yang mau mondok anaknya tapi yang nangis bapaknya, biasanya kan yang nangis anaknya yang mau mondok. Hihi J Yah memang begitulah,  mungkin karena orang tua punya rasa sayang yang besar sama anaknya jadi nggak pingin pisah sama anaknya dan pingin di sanding terus. Tapi kayanya sih waktu itu juga orang tuaku mungkin lagi nggak beruang. Pokoknya banyak kemungkinan lah yang aku nggak tau jelas alasannya.
Akhirnya, jalan satu-satunya ya aku nekat mondok sendiri. Maklum lah pondok tempat aku belajar itu tidak seketat pondok (pesantren2) lain. Pesantrenku itu bebas, walaupun namanya itu Pondok Pesantren Modern tapi ya nggak taulah memang agak bebas disana. Setelah aku daftar sama pengurus pondok dengan dalih bahwa aku tuh mau mondok, tapi administrasinya alias uangnya itu belakangan eh ternyata pengurusnya itu baik guys. So finally aku mondok deh tanpa bilang ke orang tua dulu. Dan selang beberapa hari akhirnya orang tuaku tau dan mau nggak mau kan akhirnya mereka ngebolehin dan dibayarin juga kan akhirnya. Hehe
Nah, ini neh detik2 menjelang aku mau menghafal Al Quran yang pertama kalinya. Waktu itu masih UAS semester 2 kelas 11. Waktunya buat belajar kan ya, tapi beda di tahun itu ketika aku disuruh mulai menghafal buat kegiatan akhirussanah di pondokku, atau kalo di pondokku itu dinamakan Khotmil Quran Akbar. Nah pas waktu itu aku kebagian jus 2 yang diawali dengan kata “Sayaqulu”. You know at that time I didn’t know how to memorize Alquran at all. Jadi bener2 aku itu dari 0 banget ngafal Alquran itu. Dan lucunya aku ngafal dari Juz 2 surat Al baqarah.  Padahal temen2ku itu ngafalnya dari juz 30 loh. Mungkin karena aku mondoknya belum tahun ajaran baru kali ya, malah di akhir tahun ajaran jadi ya ga ada temen satu angkatan. Hehe.. dan kebayang pusingnya aku waktu itu karena bebarengan dengan Uas, jadi aku yang masih baru dalam proses menghafal bingung buat mbagi waktu. akhirnya Aku belajar buat uas seadanya dan menurutku sih nggak maksimal, tapi kata pak Kyaiku kalo kita ngafal quran ndak usah khawatir, kabeh bakale padang lan gampang (semua akan menjadi terang dan mudah). So ya akhirnya aku lebih konsen ke hafalan deh. Dan bener ketika UAS aku nggak mengalami kesulitan yang  sangat. Semua dipermudah alhamdulillah, dan aku tetap menjadi juara kelas waktu itu.
Nah akhirnya mau nggak mau aku juga ngafalin kan. Asal temen2 tau kalo aku tuh Nggak ada dasar hafalan sama sekali. Mentok hafal surat pendek. Yah walopun dulu katanya sering ngaji di pondok juga habis asar sama habis magrib. Tapi itu kan belajar kitab bukan tahfidz. Lah saya nemu dan tau istilah tahfidz itu ya dipondok pesantrenku ini. Kalo dulu kan saya ngaji di rumah itu di pondok pamanku dan itu pas waktu masih kecil. Asal temen2 tau, surat al bayyinah itu dulu bagi aku puanjangg banget loh guys. Tapi ya semakin kesini semakin ke sini ternyata yang namanya surat2 yang ada di juz 30 itu pendek2 semua.
Well, back to our topic. Nah, saya akhirnya ngafal tuh juz 2. Kira2 kurang 2 bulan menuju khataman (khotmil qur’an akbar). Awalnya waktu saya ngafal itu saya agak malu, minder pokoknya. Karena apa. Karena anak2 yang masih kelas 1 Mts yang bisa dikatakan adik tingkatku itu udah bisa hafal beberapa juz. Lah sedangkan aku? Juz 30  aja belum hapal waktu itu. Baru aja mulai ngafal dan itu juz 2. Akhirny aku nggak mau kalah sama adik kelasku. Masa iya aku yang kelas 11 mau kelas 12 Aliyah ini nggak bisa melebihi dia yang usianya dibawah aku. Finally aku ngafalin semua dengan penuh semangat, dan terkadang juga ditengah jalan ngerasa nggak kuat dan pingin berhenti. Aku mengalami kesulitan waktu ngafal ayat cerai (tolak). Karena ayat itu muter2 guys menurutku dan kata2 nya juga susah. Tapi aku akhirnya bisa melalui itu semua. Karena menurutku ayat yang susah itu nggak ada. Yang ada mindset kita yang mengatakan ayat ini susah, ayat itu susah, dan lain sebagainya.  Dan selain itu juga aku beranggapa bahwa ayat yang nggak lancar2 ketika di hafal berati dia lagi pingin bener2 di manja, yaitu dengan cara banyak di perhatiin. Dalam arti di ulang2 terus. Terkadang sampe aku ngomong sama ayat yang nggak nyantel2 itu seperti ini guys, “ehh kamu, akan ku taklukkan kamu”. Seperti itu guys.
2 bulan berlalu, akhirnya aku bisa baca hasil hafalan alquranku yakni juz 2 surat Albaqarah bil ghoib. Rasanya waktu itu aku nggak percaya. Aku bisa hafal 10 lembar bolak balik ayat alquran, 1 juz pula. Dan bacanya di hadapan para jamaah pengajian yang datang dari berbagai kabupaten, kabupaten Tegal, Pemalang, Pekalongan,Kendal, Semarang, dan juga Demak. Rasanya suatu keajaiban bisa dengan jalan sendiri hafalannya tanpa mengingat2 hafalan, mulut ini mengucapkan kalam Allah dengan sendirinya. Dari situ mulai bertambah yakin bahwa Alquran memang bener2 mukjizat. Dan janji Allah bener bahwa Allah akan menjaga AlquranNya. “Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran dan pasti Kami {pula} yang memeliharanya” (qs.Al Hijr:9).
Setelah merasa sudah hafal 1 juz akhirnya sesuai peraturan pondok pesantrenku akhirnya aku harus ngafal juz 30. Aku ngafal dengan penuh semangat. Karena aku malu guys sama temen2ku yang sudah hafalan beberapa juz. Juz belakang mereka sudah pada hafal. Akhirnya mulailah ketika kelas 12 aku mulai ngafal juz amma. Waktu itu aku nggak tau fungsinya ngafal Quran itu apa, manfaatnya apa, dan buat apa juga aku nggak tau. Yang aku tau kalo ngaji itu dapat pahala. Udah itu aja. Tapi nggak tau kenapa aku waktu itu ngafalinnya semangat banget. Asal temen2 tau aku semangat ngafal Quran itu bukan karena pingin jadi khafid atau khafidzah. Wong aku waktu itu juga nggak tau kalo khafidz atau khafidzah itu gelar buat orang yang hafal Quran ko. Jadi satu2nya motivasiku kenapa aku giat ngafal Alquran waktu itu karena aku nggak mau kalah sama temen2ku dalam segala hal, karena aku dari Aliyah kelas 10 sampe kelas 11 itu selalu ranking 1 jadi aku nggak mau kalah. Prinsipnya Arini itu harus selalu nomor 1. Gitu aja.
Berjalannnya waktu aku sudah hafal juz 30, dilanjut ke jus 29, 28 dan kemudian saya loncat ke juz 1. Karena juz 2 sudah saya hafal waktu khotmil Quran itu akhirnya setelah juz 1 saya pindah ke juz 3, juz 4, juz 5, juz 6, juz 7, juz 8, juz 9, juz, 10, juz 11, dan seterusnya sampe juz 27. Tapi waktu ngafalin juz 21 itu nggak urut guys, karena ya itu dapet jatah atau bagian di khotmil Quran.
Dari perjalanan tiga tahun itu,aku bisa belajar banyak hal. Semakin kesini semakin kesini motivasiku untuk menjadi nomor 1 dan mengalahkan temen2ku pun sudah mulai terakuisisi dengan motivasiku yang lain. Semakin kesini juga aku mengerti faedah menghafal Alquran, dan aku pun semakin yakin dengan keajaiban Allah. Apapun yang aku minta Allah selalu kabulkan, kalo tidak ya diganti dengan yang lebih baik. Semakin yakin hati ini, kalo memang semua kalamnya itu bener. Allah memerintah hambanya untuk meminta dan berdoa hanya kepada Allah, maka akan dikabulkan. Dalam firmannya, “ Dan Tuhanmu berfirman, ‘berdoalah kepadaKu, niscaya akan Aku perkenankan bagimu,..’” {qs. Gafir:60}.
Selain itu juga aku pingin menjadi keluarga Allah diBumi. Rasul pernah bersabda bahwa Allah mempunyai keluarga di bumi. Ada salah satu sahabat yang bertanya kepada Rasul, siapa ya Rasulullah yang engkau maksud? Rasulpun menjawab Ialah Ahlul Quran. Selanjutnya akupun ingin membuat bahagia kedua orang yang sangat berjasa dalam hidup ku, orang yang rela berkorban apapun demi anaknya, menahan lapar hanya demi anaknya yang kenyang. Yah mereka orang tuaku. Terutama Ibuku. Aku pingin buat Ibuku tu bangga mempunyai anak yang hafal Alquran. Aku pingin membuktikan kepada mertua Ibuku bahwa Ibuku itu baik dalam mendidik anak2nya, Ibuku itu orang hebat yang berhasil mengajarkan kebaikan kepada Anak2nya dan bisa menjadikan anaknya itu ahlul quran walau dirinya tidak.
Aku juga pingin membuktikan kepada tetangga dan semua orang bahwa walaupun ayah dan ibuku orang yang tidak pandai, Ibu yang hanya lulusan SD, dan Ayahku yang Sdpun tak tamat. Mungkin bagi mereka ayah ibuku bukan siapa2 dan tidak berarti apa2, namun tidak bagiku. Mereka itu luar biasa. Mereka itu sungguh luar biasa. Teringat ketika aku sakit, Ibu yang meminumkan obat kepadaku juga menyuapaiku. Ibu yang ketika aku menangis, dengan senang hati Ia mengelus kepalaku dan membiarkan aku berada di pangkuannya. Ayah yang ketika aku kedinginan Ia yang menyelimutiku. Ayah yang ketika aku pusing, Ia pijat kepalaku.
Teringat ketika Ayah yang berbaring di rumah sakit, aku mencoba membalas dengan merawatnya dan aku juga sadar itu kewajibanku. Namun ternyata letih bukan main. Dan itu baru 1 bulan aku merawat ayahku yang sakit. Bagaimana dengan Ia yang merawat ku dari Bayi sampe sebesar ini, ayah mencari uang demi menghidupiku, demi memenuhi kebutuhanku, dan demi aku agar bisa jajan. Tapi alangkah teganya aku dulu ketika kecil yang menuntut ketika meminta sesuatu harus ada. Dan ternyata Ayah memperjuangkan itu semuanya dengan peluh, panas, terik, berbagai batu terjal di lalui dan tak jarang bersaing dengan temannya yang tak jarang pula menimbulkan kebencian diantara mereka. Lalu setelah tau itu semua, apa yang bisa aku perbuat? Dengan bekerja siang malamkah, agar mendapatkan uang banyak, dan agar dapat memberi uang banyak  kepada mereka? Aku rasa itu tidak akan pernah cukup dan memang tidak akan pernah terbayarkan. Cinta mereka, pengorbanan mereka, tangisan mereka, peluh mereka, kasih sayang mereka, perhatian mereka, kesabaran mereka, apapun dari mereka tidak akan pernah kita mampu lunas membayar. Dari situlah, aku mulai berfikir, mungkin dengan Alquran lah aku bisa membalas kebaikan mereka, ketulusan mereka. Di dalam Alquran semua di janjika oleh Allah. Dan taukah bahwa kemuliaan bagi kedua orang tua di Surga kelak ialah ketika Mereka dikenakan jubah kemuliaan oleh Allah. Dan itu semua bisa karena anak yang hafal Alquran. Semua itulah yang sekarang menjadi motivasiku. Aku bukan apa2, aku bukan siapa2, aku nggak punya apa2, aku hanya bisa menghafal Alquran. Terkadang air mata ini jatuh tanpa disadari ketika sedang membaca AlquraMu ya Allah, teringat wajah orang tuaku dan aku selalu berdoa untuk mereka. Semoga air mata dalam murojaahku bisa mengantarkan Ayah dan Ibu hamba menjadi pribadi yang semakin baik, sehat selalu, dan selalu bertakwa padaMu ya Rob. Selalu berada dalam lindunganmu dan beri mereka keselamatan, karena hamba tidak akan pernah siap ketika Engkau mengambil salah satu atau mereka semua ya Allah. Allahummarhamna bil quran.....

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan ‘Ah’ dan janganlah engkau membentak keduanya dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik” (qs.Al Isro:23)


Selasa, 15 Agustus 2017

Poetry



I carry a torch for you in silence
With an eye to that love remains intact untouched
Like the sun when greeting flower buds are blooming
Never touched but his love was felt by flower buds that are in a bloom
Is it on the cards I’m in your heart?
Do you know that I really drive at you?
When the lips no longer able to say
This heart screams for your name
It brings me more imaginary about you
It is clear all about you
But enough in my silence
In silence I adore you
In prayer I moan expecting you
In solitude I endure to idolize you
I am longing you wishing so are you
Love love with his love
And i will always carry a torch for you
Till my love and your love are united in His Love....

Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan

Gedung Sekolah Islam Al Azhar Pekalonga tampak depan Hai everybody... Bagi kalian yang mungkin masih bingung mencari Sekolah bagus di Kota P...