Cermin Pendidikan Indonesia ‘Bohong Itu Halal’
Berbincang masalah kemajuan bangsa Indonesia saat ini tentunya
tidak dapat dipisahkan dengan yang namanya pendidikan Indonesia itu sendiri.
Pendidikan merupakan salah satu anasir primer kewibawaan sebuah bangsa ataupun
negara didapatkan. Dengan adanya edukasi yang benar-benar mengedukasi pastinya
akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter dan kompeten
dibidangnya. Sehingga kondisi bangsa akan terus mengalami rekonstruksi dengan
adanya para generasi penerus bangsa yang cakap dalam berbagai lini.
Namun sepertinya ketika kita melongok realitas yang ada, pendidikan
di Indonesia nampaknya belum bisa dikatakan berhasil dalam mencapai tujuannya
yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang tercantum dalam pembukaan
Undang-Undang Dasar 1945. Itu artinya pendidikan di Indonesia saat ini dalam
keadaan genting. Negara yang kaya akan sumber daya alamnya jika tidak diimbangi
dengan sumber daya manusianya maka negara itu tidak bisa dikatakan maju. Hal
ini persis terjadi di Indonesia.
Walakin tidak berlaku
sebaliknya. Jika negara itu tidak mempunyai sumber daya alam yang melimpah ruah
namun memiliki sumber daya manusia yang mumpuni maka negara itu bisa saja
menjadi negara maju. Kasus seperti ini terjadi seperti halnya negara Singapura.
Dari kedua negara ini dapat dilihat
bahwa terdapat distingsi yang amat jelas mengenai sumber daya
manusianya. Dilansir dari www.bbc.com Lee Kuan Yew
yang dijuluki sebagai bapak kemajuan Singapura mengatakan bahwa kualitas sumber
daya manusia suatu negara adalah faktor tunggal terpenting yang menentukan
kompetitif suatu negara. Karenanya, sistem pendidikan menjadi hal sangat vital
dan harus menjadi fokus bagi negara-negara berkembang yang ingin mendapatkan
perubahan radikal.
Berbicara mengenai sistem pendidikan maka kita sebagai bangsa
Indonesia pasti sudah merasakan dan melihat bagaimana keadaan pendidikan kita
saat ini. Apalagi bagi kaum pelajar dan akademis khususnya para penerus bangsa
para mahasiswa. Jika pendidikan itu identik dengan segala hal yang baik-baik
namun nampaknya pendidikan sekarang sudah terintervensi dengan hal yang tidak
baik. Iya, adanya kebohongan dalam pendidikan lah contohnya.
Kebiasaan berbohong nampaknya sudah menjadi anomali yang lumrah
kali ini. Berbohong hanya dianggap dosa kecil yang tidak terlalu berefek
apa-apa. Namun anehnya kebiasaan berbohong ini sudah mendarah daging. Sangat
ganjil pula ketika yang berbohong itu tau bahwa sejatinya berbohong itu
dilarang dalam agama. Terlepas dari agama apapun itu. Terlebih lagi adanya
kebohongan dalam dunia pendidikan.
Bindam ditubuh pendidikan Indonesia karena perilaku berbohong masih
terasa. Semoga rasa nyerinya tak segera musnah agar kita bisa siuman bahwa
keadaan pendidikan saat ini masih krisis. Lantas kapan kita bisa siuman dan
sadar sementara generasi muda sudah diajarkan berbohong dalam dunia pendidikan.
Misal saja, dulu ketika saya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Ketika
menghadapi UN (Ujian Nasional), saya melihat para guru pada sibuk untuk
melakukan kemungkaran berjamaah. Iya, berbohong berjamaah maksudnya.
Berbohong dalam rangka membantu siswa-siswanya agar bisa lulus 100%
dan agar nama almamater sekolahpun bereputasi baik. Jujur saja, ketika diberi bocoran itu ya saya terima
saja. Toh ini juga atas perintah dari Bapak Ibu guru, teman-teman juga mau
melakukan kebohongan itu. Setelah saya masuk ke jenjang pendidikan yang lebih
tinggi, ketika saya duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA) ternyata juga sama.
Memberikan bocoran disaat UN dan tindakan tidak jujur itu masih terus
berkembangbiak dengan subur. Tak hanya di sekolah negeri, sekolah swasta Islam
pun melakukan kebohongan berjamaah. Tidak ada bedanya. Seolah seperti itulah
refleksi dunia pendidikan kita saat ini dan bahkan sudah menjamur seperti itu
adanya. Saya rasa semua orang pun tau.
Itu hanya ditingkat SMP dan SMA, belum lagi yang di Perguruan
Tinggi. Saat ini saya duduk di bangku kuliah di salah satu Perguruan Tinggi
Keagamaan Islam Negeri di Jawa Tengah. Ternyata kebohongan itupun masih terus
berlanjut. Berhubung saya aktif di beberapa organisasi intra kampus maka saya
terbiasa menghadap para pejabat tinggi kampus. Contoh saja ketika salah satu
UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) ingin mencairkan dana DIPA (Daftar Isian
Pelaksanaan Anggaran) untuk kegiatan, tak heran disitu ada banyak manipulasi
dan kebohongan. Dari awal membuat proposal, mengajukan proposal, hingga tahap
membuat LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban).
Bahkan tak heran, terkadang justru dari pejabat tinggi kampusnya
yang mendorong kita selaku mahasiswa untuk tidak berkata apa adanya dan
mengajarkan manipulasi. Terkadang juga organisasi itu sendiri yang mengajarkan
untuk menulis di proposal A dan realitasnya B. Atau bahasa organisasinya itu ya
bahasa proposal, hanya formalitas saja. Namun menurut saya, hal sekecil ini
menjadi krusial.
Belum lagi ketika saya mengikuti lomba PIONIR (Pekan Ilmiah
Olahraga Seni dan Riset) ke 8 tahun 2017 tingkat PTKIN Nasional, sudah bisa
dipastikan bahwa yang menjadi juara umum pasti tuan rumah. PIONIR
sebelum-sebelumnya juga seperti itu. Dan berangkat dari itu semua, kadang saya
sendiri bingung. Padahal Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri, kok ya
seperti itu. Lantas yang bukan Perguruan Tinggi Keagamaan itu bagaimana.
Teringat kasus beberapa
waktu lalu yang sempat gencar atas kasus kebohongan seorang mahasiswa yang
pernah dijuluki the next Habibie. Tentunya kasus itu sangat memalukan
bukan. Kasus itu justru membuat reputasi pendidikan Indonesia ini semakin
terpuruk dan dipandang sebelah mata oleh dunia. Ditambah lagi dengan adanya
berita doktor karbitan ala UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Belum lagi kasus
mega korupsi e-ktp yang terkenal dengan korupsi berjamaah ini. Anehnya kasus
korupsi yang diduga melibatkan ketua DPR ini belum juga usai dan nampaknya juga
akan berbuntut panjang. Ditambah lagi adanya keputusan dari KPK yang menetapkan
ketua DPR untuk kedua kalinya sebagai tersangka setelah beberapa waktu sebelumnya
juga menyandang status tersangka. Itulah wajah pendidikan kita saat ini yang
dipandang dunia. Semrawut.
Saya rasa, negara ini akan ambruk
disebabkan oleh orang-orang yang korup dan menghalalkan segala cara demi
mencapai tujuan (termasuk dengan jalan berbohong). Namun saya juga tidak
sepenuhnya menyalahkan para koruptor itu. Karena menurut saya para koruptor itu
merupakan produk / hasil dari pendidikan Indonesia selama ini. Walaupun memang
tentu tidak bisa dipukul rata. Saya pun tidak sepenuhnya mendiskreditkan
seluruh pengajar baik guru maupun dosen di Indonesia.
Lalu apakah sebenarnya dari pihak Kementerian Pendidikan selaku
pihak yang berwenang mengetahui aneka macam bentuk kebohongan yang ada dalam
dunia pendidikan selama ini? Jika memang tidak, kok rasanya tidak mungkin. Atau
bahkan kebiasaan berbohong ini memang sudah tersistem dari Kementerian
Pendidikan itu sendiri?
Jika memang kebiasaan berbohong itu sudah berbudaya dan dianggap
lazim maka sungguh ironis sekali pendidikan kita selama ini. Mungkin saja
pendidikan kita tergiur dengan proses pendidikan diluar negeri sana yang sudah
sangat fantastis. Hingga membuat kita tidak sabar dan lupa bahwa proses itulah
yang paling penting. Maka sadar atau tidak sadar pendidikan kita ini memformat
sistem pendidikan yang pragmatis dan instan. Maka mau tidak mau dan tak dapat
dipungkiri pendidikan kita akan menghasilkan lulusan yang pragmatis dan juga
tentunya instan. Bentuk rilnya ya para koruptor itu.
Dari beberapa kasus yang saya paparkan diatas, maka tak heran
masyarakat luas bisa saja berspekulasi bahwa pendidikan di Indonesia
menghalalkan berbohong. Jika sudah seperti ini, citra Indonesia jelek dimata
dunia. Boleh saja dunia melirik Indonesia namun hanya melirik sumber daya
alamnya saja tapi yakinlah bahwa dunia juga pasti akan sungkan melirik
Indonesia terutama orang-orangnya karena sumber daya manusianya yang rendah.
Bagaimana kok bisa dunia menilai bahwa sumber daya manusia Indonesia itu
rendah, gampang saja mereka melihat dari pendidikannya seperti apa.
Lantas siapa yang hendak
mereformasi pendidikan kita agar lebih menghargai proses jika tidak kita
sendiri. Meminjam istilah dari Anonimous bahwa bad habbits are easy to make, but
extremely hard to end. Good habbits, on the other hand, tend to take more time
to make, yang artinya kebiasaan-kebiasaan buruk (termasuk berbohong) itu
mudah dilakukan tetapi sungguh sangat sulit untuk diakhiri/dihilangkan.
Sedangkan kebalikannya kebiasaan baik cenderung membutuhkan waktu yang lama
untuk dilakukan.
Apakah kita sebagai bangsa Indonesia hanya diam saja melihat negara
tetangga dan melihat negara-negara lain sudah maju. Sedangkan kita hanya
beristirahat ditempat tanpa adanya usaha untuk menjadi seperti mereka atau
bahkan lebih. Apakah ada hasrat kita untuk maju? Atau justru kita sudah PW
(Posisi Wenak) dalam keadaan sekarang? Keadaan yang dibilang sebagai negara
berkembang. Jika kita ingin maju maka marilah bersama-sama selamatkan
Indonesia. Selamatkan pendidikan Indonesia. Nelson Mandela pernah berkata education
is the most powerful weapon which you can use to change the world. Untuk
merubah dunia maka pendidikanlah senjata yang paling kuat. Ketika ingin merubah
Indonesia, maka pendidikan pulalah yang menjadi senjata paling kuat. Pendidikan
seperti apa? Tentunya pendidikan yang baik. Pendidikan yang jujur. Pendidikan
yang menjunjung tinggi proses. Mulailah jujur dari sekarang and let’s
make good habbits.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar