Buat Bom
Nuklir Dulu, Baru Saya Ikut
Ada statement yang sedikit mencengangkan ketika saya
mewawancarai salah satu dosen IAIN Pekalongan. Wawancara terkait dengan
pengaruh seruan bela negara oleh Habib Luthfi. Heriyanto namanya. Ia adalah
salah seorang dosen pengampu mata kuliah Tafsir Quran. Bagi mahasiswanya Ia
termasuk dosen yang moderat.
Tepatnya hari
Jumat, 20moktober 2017 sebelum dimulainya sholat jumat, saya menemui beliau. Ketika
hendak saya temui diruangannya ternyata kosong. Namun saya cari dan akhirnya
saya bertemu beliau di tempat parkir. Ia pun tak sendirian. Ia bersama salah
satu temannya yang kebetulan juga dosen. Sayapun menyapa mereka dengan salam. Kebetulan
juga mereka sedang menikmati secangkir kopi. Karena posisi mereka sedang duduk
diatas tumpukan bata merah, sayapun menyesuaikan. Tapi saya merasa tidak nyaman
dengan posisi saya saat itu. Akhirnya saya memilih jongkok dihadapan mereka.
Angin sepoi-sepoi menambah suasana semakin
nyaman dan saya merasa lebih akrab dengan mereka. Karena kami
berbincang-bincang cukup lama dan tidak terlalu formal. Sayapun mulai
menyalakan recording tool untuk menyimpan semua perbincangan /
wawancaranya.
Ada beberapa
pertanyaan yang saya ajukan. Pak Heri dan temannya _pak Mufid_ merespon dengan
baik walau terkadang dari jawaban Pak Heri _responden utama saya_ ini terkesan
tidak serius. Namun memang begitulah karakter beliau. Humoris. Karena ada dua
dosen disitu ya akhirnya aya mintai jawaban mereka.
Namun, ketika saya
melontarkan pertanyaan terkait apakah bapak setuju jika Khilafah Islamiyah ini
diterapkan di Indonesia, Beliau langsung fast response mengatakan tidak.
Jawaban beliau cukup panjang, hampir 30 menit saya perhatikan. Lebih panjang
dari jawaban-jawaban sebelumnya. Beliau mengungkapkan bahwa orang-orang yang
mendambakan berdirinya Khilafah Islamiyah sebagai sistem pemerintahan yang
ideal, mereka itu tidak melihat sejarah. Mereka itu tidak faham sejarah.
Cukup panjang
beliau menyampaikan alasan atas ketidaksetujuannya terhadap sistem Khilafah
ini. Sebagai dosen Tafsir Quran dan juga pengikut setia pengajian Habib Luthfi
yang terkenal dengan seruan nasionalismenya ternyata mempunyai prinsip yang
bisa dibilang ekstrim. Disela-sela jawabannya mengatakan “buat bom nuklir dulu,
baru saya ikut Khilafah Islamiyah”. Sedikit terkejut dengan statement beliau itu. Sayapun khawatir dan
bertanya-tanya pada diri saya sendiri “bagaimana jika memang kelompok yang
mengagung-agungkan Khiafah itu bisa buat nuklir beneran. Apakah benar beliau
akan ikut dan gabung dengan mereka?” ah rasanya sulit dipercaya para kelompok
khilafah lovers itu bisa buat bom nuklir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar