Sabtu, 28 Oktober 2017

Wawancara



Buat Bom Nuklir Dulu, Baru Saya Ikut

Ada statement yang sedikit mencengangkan ketika saya mewawancarai salah satu dosen IAIN Pekalongan. Wawancara terkait dengan pengaruh seruan bela negara oleh Habib Luthfi. Heriyanto namanya. Ia adalah salah seorang dosen pengampu mata kuliah Tafsir Quran. Bagi mahasiswanya Ia termasuk dosen yang moderat.
            Tepatnya hari Jumat, 20moktober 2017 sebelum dimulainya sholat jumat, saya menemui beliau. Ketika hendak saya temui diruangannya ternyata kosong. Namun saya cari dan akhirnya saya bertemu beliau di tempat parkir. Ia pun tak sendirian. Ia bersama salah satu temannya yang kebetulan juga dosen. Sayapun menyapa mereka dengan salam. Kebetulan juga mereka sedang menikmati secangkir kopi. Karena posisi mereka sedang duduk diatas tumpukan bata merah, sayapun menyesuaikan. Tapi saya merasa tidak nyaman dengan posisi saya saat itu. Akhirnya saya memilih jongkok dihadapan mereka.
             Angin sepoi-sepoi menambah suasana semakin nyaman dan saya merasa lebih akrab dengan mereka. Karena kami berbincang-bincang cukup lama dan tidak terlalu formal. Sayapun mulai menyalakan recording tool untuk menyimpan semua perbincangan / wawancaranya.
            Ada beberapa pertanyaan yang saya ajukan. Pak Heri dan temannya _pak Mufid_ merespon dengan baik walau terkadang dari jawaban Pak Heri _responden utama saya_ ini terkesan tidak serius. Namun memang begitulah karakter beliau. Humoris. Karena ada dua dosen disitu ya akhirnya aya mintai jawaban mereka.
            Namun, ketika saya melontarkan pertanyaan terkait apakah bapak setuju jika Khilafah Islamiyah ini diterapkan di Indonesia, Beliau langsung fast response mengatakan tidak. Jawaban beliau cukup panjang, hampir 30 menit saya perhatikan. Lebih panjang dari jawaban-jawaban sebelumnya. Beliau mengungkapkan bahwa orang-orang yang mendambakan berdirinya Khilafah Islamiyah sebagai sistem pemerintahan yang ideal, mereka itu tidak melihat sejarah. Mereka itu tidak faham sejarah.
            Cukup panjang beliau menyampaikan alasan atas ketidaksetujuannya terhadap sistem Khilafah ini. Sebagai dosen Tafsir Quran dan juga pengikut setia pengajian Habib Luthfi yang terkenal dengan seruan nasionalismenya ternyata mempunyai prinsip yang bisa dibilang ekstrim. Disela-sela jawabannya mengatakan “buat bom nuklir dulu, baru saya ikut Khilafah Islamiyah”. Sedikit terkejut dengan statement  beliau itu. Sayapun khawatir dan bertanya-tanya pada diri saya sendiri “bagaimana jika memang kelompok yang mengagung-agungkan Khiafah itu bisa buat nuklir beneran. Apakah benar beliau akan ikut dan gabung dengan mereka?” ah rasanya sulit dipercaya para kelompok khilafah lovers itu bisa buat bom nuklir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan

Gedung Sekolah Islam Al Azhar Pekalonga tampak depan Hai everybody... Bagi kalian yang mungkin masih bingung mencari Sekolah bagus di Kota P...