Jumat, 06 April 2018

Tentang Saya


Foto Arini Sabrina.

Oke, Namaku Arini Sabrina. Biasa dipanggil Rini kalo dirumah. Kalo di kampus ya dipanggil Arin atau Arini. Tapi ada beberapa dosen yang suka manggil saya Sabrina. Katanya lebih elegan kalo dipanggil Sabrina. Hehe..

Saat ini saya sedang belajar di IAIN Pekalongan, perguruan tinggi negeri  satu-satunya di Karesidenan Pekalongan. Sebenarnya nggak ada niatan untuk kuliah disini. Dulu justru saya pernah bilang saya mending gak usah kuliah kalau harus disuruh kuliah di IAIN Pekalongan (dulu dikenal dengan sebutan STAIN Pekalongan). Eh tapi akhirnya kemakan omongan sendiri. huhuhu

Dulu saya tuh udah lolos beasiswa BidikMisi di Universitas Negeri  Semarang, Waktu itu saya mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Inggris sebagai pilihan pertama dan Akuntansi sebagai pilihan yang kedua. Namun sayang beribu sayang, orang tua saya nggak ngijinin saya kuliah di Semarang. Biasalah alasan klasik para orang tua nggak mau ditinggal jauh sama anaknya.  Wal hasil, ya sudahlah. Agak sedikit kecewa sama orang tua sih.

Dan pada akhirnya mau nggak mau saya harus berlabuh di IAIN Pekalongan. Saya daftar lewat jalur mandiri dan akhirya diterima. Saya orangnya paling malas kalo disuruh mengikuti OSPEC atau kalau di IAIN Pekalongan tahun saya dulu dinamakan dengan TASKA (Taaruf Studi Kampus). Saya pun memutuskan untuk tidak mengikuti TASKA. Jika teman-teman mahasiswa lain itu pada punya jas almamater, lain halnya dengan saya. Hingga semester 4 ini saya belum punya jas almamater kampus loh. Banyak yang bilang kalau saya ini mahasiswa ilegal karena nggak punya jas almamater. Tapi lagi-lagi, saya gak suka peduli dengan omongan orang lain. 

Nah, di jurusan yang saya ambil kebetulan belajar tentang dunia penyiaran alias broadcast. Itu dunia yang menurut saya sangat baru dan karena saya agak gaptek jadi ya agak merasa gimana gitu. Tapi justru disitulah tantangan bagi saya untuk belajar lebih giat lagi dan mengenal banyak hal baru. Karena saya selalu memberikan stempel bagi diri saya sendiri bahwa saya adalah “someone with full of motivation to learn new things”. Jadi mau nggak mau saya harus selalu belajar terus. 

Mungkin berbeda dengan teman-teman satu jurusan yang lain, yang mana mereka lebih aktif di himpunan mahasiswa jurusan (HMJ) sedangkan saya lebih memilih aktif di organisasi intra kampus. Saya aktif di dua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Pertama saya mengikuti UKM Bahasa, karena disitu saya bisa mengembangkan dan mengaplikasikan dan berinteraksi dengan teman-teman dengan menggunakan bahasa Arab dan juga bahasa Inggris. Dengan mengikuti UKM Bahasa ini, dulu ketika tahun 2017 saya dipilih menjadi delegasi Lomba Debat Bahasa Inggris Tingkat Nasional mewakili IAIN Pekalongan di Universitas Islam Negeri Ar Raniry Banda Aceh. Saya senang mengikuti kompetisi semacam itu. 

Berawal dulu ketika saya masih duduk di bangku Madrasah Aliyah (MA) saya dipilih mewakili sekolah saya mengikuti Olimpiade Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada Jogjakarta. Selain itu juga saya biasa mengikuti lomba pidato Bahasa Arab dan Bahasa Inggris tingkat Kabupaten di Pemalang tiap tahun dan selalu mendapatkan juara. Maka tak heran, ketika saya baru menginjak semester 2, saya langsung direkrut menjadi pengurus di UKM Bahasa periode 2017 menempati posisi dibidang Pemberdayaan Sumber Daya Mahasiswa (PSDM). Dan untuk tahun 2018 ini, saya menjabat sebagai Sekretaris I di UKM Bahasa tersebut.

Kedua, saya mengikuti UKM Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Al Mizan. UKM yang berfokus kepada dunia tulis menulis. Jujur saya nggak pernah menulis sebelumnya. Kalau untuk membaca sih, itu sudah hal biasa bagi saya karena saya mempunyai banyak buku bacaan di perpustakaan pribadi saya di rumah. Dibanding teman-teman seusia saya, mungkin buku saya yang paling banyak. Hehe. Maka dari itu, saya mulai menggeluti dunia pers mahasiswa ketika awal masuk kuliah. Namun berhubung saya masih sibuk di UKM Bahasa waktu itu, satu tahun pertama di LPM Al Mizan itu saya dibilang tidak begitu aktif, hanya aktif ketika ada acara atau agenda tertentu saja.

Nah, mulai tahun 2018 ini saya ditunjuk menjadi Pemimpin Redaksi (Pemred) di LPM Al Mizan. Jujur saya agak nggak siap karena saya dulu nggak begitu aktif. Namun mau nggak mau, akhirnya sayapun menuntut diri saya sendiri untuk banyak belajar hal-hal baru disitu. Namun terkadang menjadi beban tersediri bagi saya, karena sebagai pimpinan seharusnya memberikan contoh kepada bawahannya untuk tetap semangat nulis. Akhirnya waktu 24 jam bagi saya semakin terasa singkat. Karena waktu saya habis untuk membaca dan menulis. Disitu saya berusaha membuktikan kepada teman-teman saya bahwa saya sebagai pemred ini memang pantas. Akhirnya saya mencoba untuk terus menulis. Tulisan saya ini lebih kepada semacam esai ataupun artikel. Untuk sastranya belum begitu mendalami. 

Karena sebelumnya saya belum pernah menulis, maka saya nekat dan mencoba hal baru dengan mengikuti lomba menulis esai untuk membuktikan kepada teman-teman. Waktu itu diadakan oleh Universitas Pekalongan (UNIKAL). UNIKAL mengadakan lomba esai tingkat mahasiswa se-Jateng dan D.I.Y. Padahal itu tulisan pertama saya yang saya ikutkan lomba, tapi ketika pengumuman ternyata saya masuk 10 besar bersama teman-teman dari UNNES, UGM, IAIN Purwokerto, IAIN Salatiga, Univ Muhammadiyah dan UIN SuKa Jogja. Senang bukan main ketika ternyata nama saya terpampang di instragram UNIKAL bebarengan dengan mahasiswa yang beralmamater lebih keren lah daripada kampus saya. hehe...Dari situ saya merasa bahwa sepertinya saya itu punya bakat menulis. Buktinya saya baru nulis pertama kali kok bisa langsung masuk 10 besar. Padahal pesertanya sekitar 90-an. Sekali lagi saya yakinkan diri saya bahwa saya bisa. Yes, I can.

Tak hanya sampai disitu, saya akhirnya selalu browsing lewat instagram untuk melihat lomba menulis lagi. Pilihan saya jatuh untuk mengikuti lomba menulis esai tingkat mahasiswa nasional yang diadakan oleh Institut Agama Islam Tribakti Kediri. Saya selalu mendaftar lomba menulis itu yang gratis. Jadi kalau misalkan saya tidak juara ya saya tidak begitu rugi karena tidak membayar biaya pendaftaran. Justru sebaliknya ketika saya menang maka saya akan untung. Hehe.. bukannya apa-apa ya, maklumlah saya kan mahasiswa, realistis juga kalau lomba menulis ini digunakan untuk mencari uang jajan tambahan. Hehe. Ehh akhirnya tak disangka tak dinyana, saya mendapatkan notifikasi sekitar bulan Februari 2018  bahwa saya mendapat juara 2. Senang bukan main. Keberuntungan masih saja dipihakku. Dan lagi lagi saya yakin akan kemampuan saya, bahwa skill ini harus terus diasah. Jangan pernah bangga dengan hasil yang sudah pernah dicapai. Kejar terus pantang mundur.

Pada bulan Maret 2018, Saya tak henti-hentinya mengikuti lomba. Kali ini saya mengikuti lomba menulis artikel tingkat mahasiswa dan umum yang diadakan oleh STAIN Kediri. Sebenarnya saya tidak begitu berharap akan mendapat juara kali ini. Karena saya menulis pada malam hari, tepatnya habis Isya hari terkahir dikumpulkan dan dikirim ke email penyelenggara. Hanya sekitar tiga jam mikir sambil browsing dan chatting-an via whatsapp dengan orang yang saya suka (bukan pacar loh ya), akhirnya tulisan saya jadi. Mau nggak mau harus dikirim malam itu juga. Jam 11 malam saya mengirimkan tulisan saya. 

Ting tong...
Seminggu setelah pengiriman tulisan iu, tiba-tiba saya mendapatkan notifikasi di email bahwa tulisan saya layak menjadi juara 1. Wow.. senang bukan main.. lagi lagi rasa Pede ini semakin kuat. Seperti kata Pramoedya Ananta Toer dalam rumah kacanya : Menulislah apapun, jangan pernah takut tulisanmu tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis, dan tulis. Suatu saat pasti berguna.

Ahh sepertinya akan sangat panjang kalau saya ceritakan semua disini..
Ya sudah, mungkin itu sedikit pengenalan dari saya. 

Sekian Thank You...

Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan

Gedung Sekolah Islam Al Azhar Pekalonga tampak depan Hai everybody... Bagi kalian yang mungkin masih bingung mencari Sekolah bagus di Kota P...