Judul : Menulis
Tanpa Rasa Takut
Penulis : St.
Kartono
Penerbit : Kanisius
Cetakan : 2016
Tebal : 70
halaman
ISBN :
978-979-21-2436-1
Ada sebuah adagium populer dalam dunia kepenulisan yang berbunyi
‘jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah!’.
Begitulah kata imam besar Al Ghazali yang begitu simple namun tajam dan
mengena bagi yang membacanya.
Walaupun sudah puluhan tahun Al Ghazali mengingatkan dan
menganjurkan kita untuk menulis, nampaknya menulis masih dianggap susah khusunya
bagi yang tidak terbiasa menulis. Namun menulis akan dianggap mudah bagi yang
sudah terbiasa menulis. Menulis itu hak siapapun. “Siapapun bisa menulis
asalkan dia banyak membaca dan berfikir,” kata Kartono (hlm 17)
Menulis adalah sebuah aktivitas yang kompleks, bukan hanya sekedar
mengguratkan kalimat-kalimat, tetapi lebih daripada itu. Menulis adalah proses
menuangkan pikiran dan menyampaikannya kepada khalayak (hlm 17).
Bagi yang hendak menekuni dunia tulis menulis, buku ini dirasa
sangat cocok untuk dijadikan panduan menulis. St Kartono menuturan gagasannya
dengan simple namun sangat mudah dipahami. Buku yang ditulis oleh
kolomnis pendidikan asal Jogja ini terbagi menjadi empat chapter.
Empat chapter tersebut membahas terkait pengetahuan dasar
tentang pengertian menulis, manfaat menulis, kelebihan menulis, cara menemukan
ide, cara menulis dan tentunya buku ini semacam jadi motivator bagi pembaca
untuk lebih giat menulis.
Disamping bahasa yang disampaikan sederhana, halaman yang tidak
terlalu tebal, penulis pun memberikan contoh tulisan-tulisannya sehingga
mempermudah pembaca dalam memahami isi bukunya. Buku ini bisa dibilang mini
namun berisi.
Menulis memang dirasa cukup berat, terutama bagi yang memiliki
segudang aktivitas yang tak pernah usai. Namun St Kartono tetap memberikan
semangat kepada pembaca buku ini agar giat menulis. Karena menurutnya menulis
merupakan sarana untuk menjadikan diri tidak biasa alias luar biasa.
Menulis membutuhkan keberanian karena tulisan harus membawa
pencerahan. Dengan berani menulis berarti berani menyampaikan gagasan. Berani
menyatakan pendapat meski mungkin bersebrangan dengan arus utama. Bukankah
Newtonian, Marxian, hingga Geertzian terus mengalirkan pencerahan yang bahkan
mendobrak pendapat arus utama di masa kegelapan? Maka menulislah! Karena
menulis hanya perlu tiga modal, yaitu kemauan, pengetahuan, dan ketrampilan.
Seorang penulis bukanlah bertanding melawan orang lain, tetapi
berlomba dengan dirinya sendiri. Yang dikalahkan adalah dirinya sendiri yang
tidak mampu menyisihkan saldo waktu untuk duduk menulis. Itulah tantangan
menulis yang berasal dari dalam diri sendiri (hlm 67).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar