Apakah
Anda orang Indonesia? Jika iya, lantas apa yang akan Anda jawab jika Anda
ditanya apa kabar Indonesia? Apakah Anda
diam sejenak untuk memikirkan jawaban? Atau Anda langsung spontan menjawab
dengan tangkasnya? Atau Anda justru enggan untuk berkomentar tentang keadaan
Indonesia, apalagi kabar Indonesia saat ini.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa
Indonesia merupakan negara yang beragam. Beragam karena aneka suku, aneka
bahasa, aneka agama, aneka adat istiadat dan aneka-aneka yang lainnya ada di
bumi pertiwi ini (read: Indonesia). Keberagaman ini merupakan sebuah
realitas yang tak dapat kita ingkari. Keberagaman dapat dipahamai sebagai
pengakuan bahwa sebuah masyarakat adalah majemuk/ heterogen. Keberagaman inilah
yang bisa menjadikan semakin berintegritasnya suatu bangsa atau justru malah
menjadi pemicu konflik didalam suatu bangsa itu sendiri.
Secara
tidak langsung, keberagaman ini mempengaruhi harmoni sosial dalam masyarakat Indonesia
yang multikultural. Harmoni sosial ialah keadaan hidup suatu individu
masyarakat yang selaras dan serasi satu sama lain. Abdul Munir Mulkhan dalam
bukunya Satu Tuhan Seribu Tafsir mengatakan bahwa Keharmonisan sosial
ini akan terwujud jika didalamnya ada sikap saling menghargai dan menyayangi
antar anggota keluarga dan masyarakat. Harmoni sosial tidak akan pernah
tercapai ketika tidak tercipta kehidupan yang damai serta saling menghargai
dari setiap anggota masyarakat yang tinggal bersama dan memiliki perbedaan.
Seperti yang akhir-akhir ini
terjadi di Indonesia, banyak fitnah yang tumbuh subur dalam dunia maya. Dengan
mudahnya menshare informasi ataupun berita hoax, media sosial
yang dijadikan sarang untuk melancarakan visi dan misi yang keji, dengan
menghujat, memaki, mencemooh satu sama lain, terlihat bahwa harmoni sosial di
Indonesia sekarang ini patut dipertanyakan dan patut difikirkan apa yang
sebenarnya terjadi dan apa yang sebenarnya salah.
Berangkat dari sinilah
seharusnya pendidikan multikultural datang sebagai solusi yang ditanamkan kedalam setiap individu
diseluruh lapisan masyarakat. Dalam pendidikan multikultural, masyarakat diberi
pandangan yang luas tentang kebaikan perbedaan yang ada di masyarakat.
Pendidikan multikultural ini dapat diterapkan sejak dini dengan cara membekali
siswa-siswi dari SD hingga SMA dan bahkan para mahasiswa di perguruan tinggi.
Lebih dari itu, pendidikan juga diajarkan kepada anak-anak yang belum mengenyam
pedidikan formal, dalam hal ini yaitu anak-anak yang masih dalam asuhan orang
tua. Keluarga ialah elemen pertama dan yang paling mendasar dalam membentuk
kepribadian anak. Sehingga dari keluargalah –terutama orang tua—juga berperan
penting dalam mendidik anak agar pandai dan tidak terlalu rigid dalam
menghadapi perbedaan.
Tidak hanya diajarkan di
keluarga, masyarakat dan lingkungan pendidikan formal, pendidikan nonformal
seperti pesantren dirasa merupakan tempat yang paling tepat bagi generasi muda
untuk belajar memahami perbedaan. Bagaimana tidak, pesantren merupakan tempat
bagi para santri untuk menimba ilmu agama, dimana mereka berasal dari berbagai
daerah yang otomatis bahasa, dialek, tradisinya pun berbeda. Dari sinilah mereka
akan terbiasa hidup berdampingan dalam perbedaan. Di Pesantren diajarkan untuk
saling menghargai dan menghormati satu sama lain, untuk berbagi bersama, untuk
saling membantu dan bergotong royong.
Dengan
demikian, harmoni sosial bisa terwujud dengan menerapkan dan
mengimplementasikan pendidikan multikultural yang sebenar-benarnya. Dengan pendidikan
multikultural ini diharapkan harmoni sosial di Indonesia --yang sekarang bisa
dibilang kurang begitu kondusif—bisa tercipta. Walaupun semua proses dan usaha
tidak ada yang instan, tapi setidaknya mencegah lebih baik daripada mengobati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar