Kamis, 27 Juli 2017

language



Bahasa Asing, Why Not?

Eksistensi bahasa tentunya menjadi hal yang tidak dapat dielakkan lagi. Mengingat bahasa merupakan bagian dari budaya, yang mana manusia juga disebut sebagai pencipta kebudayaan sekaligus pelakunya. Berbicara soal bahasa terutama di kalangan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan bagi penulis menjadi hal yang menarik untuk di lirik. Spesifiknya mengenai kompetensi berbahasa asing terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris yang menjadi momok tersendiri bagi mahasiswa. Padahal kompetensi bahasa asing khususnya para kaum akademisi atau intelektual (baca:mahasiswa) di era globalisasi ini tidak dapat di bendung. Keahlian dalam bertransaksi dan berkomunikasi dalam bahasa asing tidak hanya menjadi nilai plus melainkan sudah menjadi hal yang urgent.
Menilik perkembangan jumlah mahasiswa IAIN Pekalongan di tahun terakhir (2016/2017) ternyata terlihat naik cukup signifikan, dari tahun sebelumnya hanya 7.844 mahasiswa menjadi 9.514  mahasiswa. Kenaikan jumlah tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi civitas kampus dalam meningkatkan mutu  tidak hanya dari segi kuantitas tapi juga dari segi dari kualitas. Salah satu indikator kualitas tersebut ialah kompetensi ataupun literasi mahasiswa dalam berbahasa asing. Ironisnya, dari jumlah mahasiswa tersebut masih sedikit motivasi mahasiswa untuk bisa menguasai bahasa asing. Kurangnya minat mahasiswa untuk memperdalam bahasa asing tidak hanya menjadi PR pihak Unit Pengembangan Bahasa (UPB) melainkan mahasiswa itu sendiri.
Terlihat ketika terdapat event atau kompetisi yang berkaitan dengan bahasa asing baik di lingkungan kampus maupun diluar kampus, sedikit mahasiswa yang berpartisipasi didalamnya. Sebagai contoh acara SPEAC Parade yang diadakan oleh salah satu UKM Bahasa IAIN Pekalongan, tidak lebih dari 50 mahasiswa yang berpartisipasi. Selanjutnya acara seleksi PIONIR 2017 yang diadakan oleh UPB hanya diikuti oleh 8 mahasiswa yang berpartisipasi di bahasa Inggris dan 15 mahasiswa yang berpartisipasi di bahasa Arab. Melihat jumlah tersebut tentunya sangat jauh dan sangat miris dari jumlah total seluruh mahasiswa IAIN Pekalongan.
Rendahnya kesadaran mahasiswa akan bahasa asing disebabkan diantaranya karena mahasiswa yang berspekulasi bahwa menguasai bahasa asing tidak begitu penting. Terlebih mahasiswa yang bukan jurusan bahasa, mereka menganggap bahasa asing tidak ada kaitannya dengan keilmuan jurusan yang mereka tekuni. Padahal bahasa asing, yakni bahasa Arab menjadi mata kuliah wajib khususnya di kampus IAIN Pekalongan. Sehingga sebagai mahasiswa Perguruan Tinggi Islam Negeri sudah sepatutnya menguasai bahasa Arab. Sedangan Bahasa Inggris menurut peraturan sekarang sejalan dengan kebijakan kementrian di Indonesia menjadi mata kuliah umum wajib di setiap perguruan tinggi. Melihat peraturan tersebut yang mewajibkan bahasa asing (Arab dan Inggris) sebagai mata kuliah wajib tentunya mengindikasikan bahwa  bahasa (Arab atau Inggris) merupakan mata kuliah yang wajib dikuasai oleh setiap mahasiswa sebagai bekal softskill kelak setelah lulus. Selain itu, penulis melihat daya saing mahasiswa IAIN khususnya dalam bidang bahasa asing juga masih rendah dibandingkan dengan kampus lain. Ditambah sugesti mahasiswa yang beranggapan bahwa bahasa asing itu sulit, rumit dan sebagainya. Dengan demikian, akan lebih baik jika mahasiswa banyak mengetahui manfaat-manfaat dari mempelajari bahasa asing agar lebih termotivasi untuk belajar.
Sehingga bagi seluruh mahasiswa di Indonesia khususnya mahasiswa IAIN Pekalongan seyogyanya harus membuka mata bahwa bahasa asing (tidak hanya bahasa Arab dan Inggris) merupakan alat komunikasi yang penting. Di era globalisasi ini ditambah perkembangan ilmu dan teknologi serta tuntutan zaman yang semakin maju dan modern, maka dibutuhkan penguasaan keterampilan bahasa asing seperti yang diajarkan di kampus yakni bahasa Arab dan bahasa Inggris namun bila perlu bahasa asing lainnya juga. Hal tersebut bertujuan tidak lain dan tidak bukan ialah agar mahasiswa IAIN Pekalongan sebagai warga negara Indonesia mampu bersaing dalam percaturan dunia di berbagai bidang sesuai keilmuan yang ditekuni mahasiswa. Untuk bisa berkiprah di dunia pendidikan, perekonomian, bisnis, pariwisata atau bidang yang lainnya yang bersifat internasional tentunya dibutuhkan jaringan internasional pula. Dimana jaringan internsional itu bisa terjalin dengan komunikasi yang baik, sedangkan komunikasi yang baik tentunya tidak lepas dari yang namanya bahasa asing sebagai alat komunikasinya. Selain itu, bahasa asing juga diperlukan mahasiswa untuk menambah pengetahuan atau wawasan dengan membaca buku, artikel, jurnal atau sejenisnya yang berbahasa asing. Karena jika kita hanya membaca dari buku, artikel atau jurnal yang hanya berbahasa Indonesia akan terasa kurang. Karena banyak para profesor luar negeri yang menuliskan keilmuannya itu dalam bahasa asing, baik Arab, Inggris ataupun yang lainnya. Apalagi tidak jarang ada beberapa dosen yang menyarankan agar mencari referensi dalam bahasa asing. Apabila kita sudah menguasai bahasa asing tentunya akan lebih mempermudah kita dalam memahaminya dan yang paling penting dengan membaca referensi berbahasa asing tadi menambah khazanah keilmuan kita.
Selanjutnya memanfaatkan fasilitas kampus, seperti tersedianya UPB bagi seluruh mahasiswa tentunya sangat berguna untuk menunjang kompetensi mahasiswa dalam berbahasa. Dengan meminta bantuan terhadap dosen, sebagai tempat konsultasi mengenai kesulitan-kesulitan yang dialami. Selain itu mengikuti kegiatan intra ataupun ekstra bahasa di kampus. Membuat komunitas bahasa dengan teman sesama mahasiswa yang didalamnya saling bertukar pengetahuan dan tentunya saling terbuka untuk mengoreksi dan di koreksi serta hal yang tak kalah pentingnya yaitu praktik. Tidak ada salahnya juga jika mahasiswa mengambil kursus bahasa untuk improve, atau jika tidak, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi sekarang bisa belajar otodidak dengan menonton video bahasa asing, mendownload file-file latihan bahasa asing, mengunduh aplikasi bahasa asing yang diminati, juga bisa praktik langsung via sosial media dengan chat atau video call dengan orang luar negeri atau native speakernya. Banyak poliglot yang mempelajari bahasa asing secara otodidak hanya dengan membaca banyak buku berbahasa asing dan juga melalui internet.
Banyak jalan menuju roma, menunujukkan bahwa banyak cara atau jalan yang bisa kita tempuh untuk bisa mencapai atau sampai ke tempat tujuan. Jika kita memang bersungguh-sungguh belajar maka bukan hal yang tidak mungkin bahasa asing dapat kita kuasai. Maka penulis teringat ada sebuah kata mutiara yang mengatakan bahwa bahasa adalah alat, semakin banyak alat yang dimiliki semakin mudah kita mendapatkannya. Kata-kata tersebut seharusnya menjadi bahan renungan dan motivasi bagi mahasiswa yang ingin sukses dalam meraih sesuatu. Jika dengan bahasa kita bisa sukses dan meraih apa yang kita inginkan, selanjutnya why not jika kita belajar bahasa asing. Namun perlu juga diingat bahwa bahasa asing bukan bahasa yang utama kita gunakan, namun hanya sebagai komplement atau pelengkap saja. Bahasa Ibu kita yakni bahasa Indonesia harus tetep kita cintai. Jadi intinya sesuai slogan dari badan pengembangan dan pembinaan bahasa “ utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa lokal, dan kuasai bahasa asing”.

 ArinSa-KPI’16

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sekolah Islam Al Azhar Pekalongan

Gedung Sekolah Islam Al Azhar Pekalonga tampak depan Hai everybody... Bagi kalian yang mungkin masih bingung mencari Sekolah bagus di Kota P...