Bahasa Asing, Why Not?
Eksistensi
bahasa tentunya menjadi hal yang tidak dapat dielakkan lagi. Mengingat bahasa
merupakan bagian dari budaya, yang mana manusia juga disebut sebagai pencipta
kebudayaan sekaligus pelakunya. Berbicara soal bahasa terutama di kalangan
mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pekalongan bagi penulis menjadi hal
yang menarik untuk di lirik. Spesifiknya mengenai kompetensi berbahasa asing terutama
bahasa Arab dan bahasa Inggris yang menjadi momok tersendiri bagi mahasiswa. Padahal
kompetensi bahasa asing khususnya para kaum akademisi atau intelektual (baca:mahasiswa)
di era globalisasi ini tidak dapat di bendung. Keahlian dalam bertransaksi dan
berkomunikasi dalam bahasa asing tidak hanya menjadi nilai plus melainkan sudah
menjadi hal yang urgent.
Menilik
perkembangan jumlah mahasiswa IAIN Pekalongan di tahun terakhir (2016/2017) ternyata
terlihat naik cukup signifikan, dari tahun sebelumnya hanya 7.844 mahasiswa
menjadi 9.514 mahasiswa. Kenaikan jumlah
tersebut tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi civitas kampus dalam
meningkatkan mutu tidak hanya dari segi
kuantitas tapi juga dari segi dari kualitas. Salah satu indikator kualitas
tersebut ialah kompetensi ataupun literasi mahasiswa dalam berbahasa asing.
Ironisnya, dari jumlah mahasiswa tersebut masih sedikit motivasi mahasiswa
untuk bisa menguasai bahasa asing. Kurangnya minat mahasiswa untuk memperdalam
bahasa asing tidak hanya menjadi PR pihak Unit Pengembangan Bahasa (UPB) melainkan
mahasiswa itu sendiri.
Terlihat
ketika terdapat event atau kompetisi yang berkaitan dengan bahasa asing baik di
lingkungan kampus maupun diluar kampus, sedikit mahasiswa yang berpartisipasi
didalamnya. Sebagai contoh acara SPEAC Parade yang diadakan oleh salah satu UKM
Bahasa IAIN Pekalongan, tidak lebih dari 50 mahasiswa yang berpartisipasi.
Selanjutnya acara seleksi PIONIR 2017 yang diadakan oleh UPB hanya diikuti oleh
8 mahasiswa yang berpartisipasi di bahasa Inggris dan 15 mahasiswa yang
berpartisipasi di bahasa Arab. Melihat jumlah tersebut tentunya sangat jauh dan
sangat miris dari jumlah total seluruh mahasiswa IAIN Pekalongan.
Rendahnya
kesadaran mahasiswa akan bahasa asing disebabkan diantaranya karena mahasiswa
yang berspekulasi bahwa menguasai bahasa asing tidak begitu penting. Terlebih
mahasiswa yang bukan jurusan bahasa, mereka menganggap bahasa asing tidak ada
kaitannya dengan keilmuan jurusan yang mereka tekuni. Padahal bahasa asing,
yakni bahasa Arab menjadi mata kuliah wajib khususnya di kampus IAIN
Pekalongan. Sehingga sebagai mahasiswa Perguruan Tinggi Islam Negeri sudah
sepatutnya menguasai bahasa Arab. Sedangan Bahasa Inggris menurut peraturan
sekarang sejalan dengan kebijakan kementrian di Indonesia menjadi mata kuliah
umum wajib di setiap perguruan tinggi. Melihat peraturan tersebut yang
mewajibkan bahasa asing (Arab dan Inggris) sebagai mata kuliah wajib tentunya
mengindikasikan bahwa bahasa (Arab atau
Inggris) merupakan mata kuliah yang wajib dikuasai oleh setiap mahasiswa
sebagai bekal softskill kelak setelah lulus. Selain itu, penulis melihat daya
saing mahasiswa IAIN khususnya dalam bidang bahasa asing juga masih rendah
dibandingkan dengan kampus lain. Ditambah sugesti mahasiswa yang beranggapan
bahwa bahasa asing itu sulit, rumit dan sebagainya. Dengan demikian, akan lebih
baik jika mahasiswa banyak mengetahui manfaat-manfaat dari mempelajari bahasa
asing agar lebih termotivasi untuk belajar.
Sehingga
bagi seluruh mahasiswa di Indonesia khususnya mahasiswa IAIN Pekalongan
seyogyanya harus membuka mata bahwa bahasa asing (tidak hanya bahasa Arab dan
Inggris) merupakan alat komunikasi yang penting. Di era globalisasi ini
ditambah perkembangan ilmu dan teknologi serta tuntutan zaman yang semakin maju
dan modern, maka dibutuhkan penguasaan keterampilan bahasa asing seperti yang
diajarkan di kampus yakni bahasa Arab dan bahasa Inggris namun bila perlu
bahasa asing lainnya juga. Hal tersebut bertujuan tidak lain dan tidak bukan
ialah agar mahasiswa IAIN Pekalongan sebagai warga negara Indonesia mampu
bersaing dalam percaturan dunia di berbagai bidang sesuai keilmuan yang
ditekuni mahasiswa. Untuk bisa berkiprah di dunia pendidikan, perekonomian,
bisnis, pariwisata atau bidang yang lainnya yang bersifat internasional
tentunya dibutuhkan jaringan internasional pula. Dimana jaringan internsional itu
bisa terjalin dengan komunikasi yang baik, sedangkan komunikasi yang baik
tentunya tidak lepas dari yang namanya bahasa asing sebagai alat komunikasinya.
Selain itu, bahasa asing juga diperlukan mahasiswa untuk menambah pengetahuan
atau wawasan dengan membaca buku, artikel, jurnal atau sejenisnya yang
berbahasa asing. Karena jika kita hanya membaca dari buku, artikel atau jurnal
yang hanya berbahasa Indonesia akan terasa kurang. Karena banyak para profesor
luar negeri yang menuliskan keilmuannya itu dalam bahasa asing, baik Arab,
Inggris ataupun yang lainnya. Apalagi tidak jarang ada beberapa dosen yang
menyarankan agar mencari referensi dalam bahasa asing. Apabila kita sudah
menguasai bahasa asing tentunya akan lebih mempermudah kita dalam memahaminya
dan yang paling penting dengan membaca referensi berbahasa asing tadi menambah
khazanah keilmuan kita.
Selanjutnya
memanfaatkan fasilitas kampus, seperti tersedianya UPB bagi seluruh mahasiswa
tentunya sangat berguna untuk menunjang kompetensi mahasiswa dalam berbahasa.
Dengan meminta bantuan terhadap dosen, sebagai tempat konsultasi mengenai
kesulitan-kesulitan yang dialami. Selain itu mengikuti kegiatan intra ataupun
ekstra bahasa di kampus. Membuat komunitas bahasa dengan teman sesama mahasiswa
yang didalamnya saling bertukar pengetahuan dan tentunya saling terbuka untuk
mengoreksi dan di koreksi serta hal yang tak kalah pentingnya yaitu praktik. Tidak
ada salahnya juga jika mahasiswa mengambil kursus bahasa untuk improve, atau
jika tidak, dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi sekarang bisa belajar otodidak
dengan menonton video bahasa asing, mendownload file-file latihan bahasa asing,
mengunduh aplikasi bahasa asing yang diminati, juga bisa praktik langsung via
sosial media dengan chat atau video call dengan orang luar negeri atau native
speakernya. Banyak poliglot yang mempelajari bahasa asing secara otodidak hanya
dengan membaca banyak buku berbahasa asing dan juga melalui internet.
Banyak
jalan menuju roma, menunujukkan bahwa banyak cara atau jalan yang bisa kita
tempuh untuk bisa mencapai atau sampai ke tempat tujuan. Jika kita memang
bersungguh-sungguh belajar maka bukan hal yang tidak mungkin bahasa asing dapat
kita kuasai. Maka penulis teringat ada sebuah kata mutiara yang mengatakan
bahwa bahasa adalah alat, semakin banyak alat yang dimiliki semakin mudah kita
mendapatkannya. Kata-kata tersebut seharusnya menjadi bahan renungan dan
motivasi bagi mahasiswa yang ingin sukses dalam meraih sesuatu. Jika dengan
bahasa kita bisa sukses dan meraih apa yang kita inginkan, selanjutnya why not
jika kita belajar bahasa asing. Namun perlu juga diingat bahwa bahasa asing
bukan bahasa yang utama kita gunakan, namun hanya sebagai komplement atau
pelengkap saja. Bahasa Ibu kita yakni bahasa Indonesia harus tetep kita cintai.
Jadi intinya sesuai slogan dari badan pengembangan dan pembinaan bahasa “
utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa lokal, dan kuasai bahasa asing”.
ArinSa-KPI’16
Tidak ada komentar:
Posting Komentar