Membangun Desa secara Inklusif
Konflik
sosial yang kian bertambah pelik tak hanya menimpa masyarakat perkotaan, hal
serupa juga dialami masyarakat pedesaan. Kemiskinan, rendahnya sumber daya
manusia, pengangguran, ketertinggalan, ketimpangan sudah menjadi sesuatu yang
mendarah daging di pedesaan. Dengan berbagai kompleksitas permasalahan yang
menimpa, kiranya melalui pendekatan inklusif bisa mengatasi problem dan
mereformasi desa yang tentunya dilaksanakan secara simultan dengan
pendekatan-pendekatan lainnya. Melalui pendekatan inklusif, seluruh lapisan
masyarakat berpeluang untuk bisa berkontribusi dan berpartisipasi membangun
desa.
Dengan
melibatkan seluruh warga desa, adanya suport dan fasilitas dari pemerintah desa
dan pemerintah diatasnya akan mereformasi pembangunan desa secara inklusif.
Pendekatan tersebut hendaknya dikonsentrasikan dalam pembangunan dana desa
sesuai kebutuhan warga, seperti pemberdayaan masyarakat dan pengembangan sosial
ekonomi desa. Dalam hal ini, peran BUMDesa dan koperasi berbasis warga pedesaan
serta kelompok-kelompok swadaya masyarakat diperlukan. Tugas dari BUMDesa yaitu
mengelola sumber daya manusia, layanan umum, serta sarana produksi pertanian.
Sedangkan koperasi bertugas memanage di bidang penyediaan bahan-bahan pokok dan
layanan keuangan. Tentunya, adanya BUMDesa dan koperasi tidak lepas dari
penyertaan modal dari kalangan elite desa.
Adanya
proyek infrastruktur fisik pedesaan tersebut, dapat membantu kelompok rentan
pedesaan tanpa terkecuali untuk mendapatkan pekerjaan dan menerima pendapatan.
Sehingga, kelompok elite desa maupun kelompok rentan desa akan memperoleh
pendapatan yang rata dan adil dari hasil kerja sama yang menguntungkan melalui
BUMDesa dan koperasi. Dengan demikian, kompleksitas permasalahan akan terurai
melalui pendekatan inklusif yang tentunya harus didampingi oleh pemerintah desa
dengan sistem yang baik hingga terciptalah desa yang mandiri, maju dan
sejahtera.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar