Mahasiswa
KW 3
Pagi itu, jam 08.40 waktunya pergantian kelas dari jam perkuliahan
pertama ke jam perkuliahan kedua. Sayapun langsung menuju ke kelas berikutnya.
Kebetulan kelasnya sebelahan. Namun karena mahasiswanya banyak, jadi, akses
jalanpun cukup macet untuk menuju ke kelas. Ditambah adanya toilet yang berdekatan
dengan ruang kelas pertama dan ruang kelas yang kedua. Bertambahnya antrian
menuju toilet menghambat jalan. Entahlah, mereka memang benar-benar buang hajat
ataupun sekedar untuk berkaca dan cuci muka.
Kebetulan model pembelajaran kami dibentuk letter U. Sayapun
duduk didepan samping kiri dosen saya. Seolah sayalah mahasiswa yang paling
siap memulai perkuliahan. Oh iya, Saya selalu senang duduk didepan dekat dosen.
Entah kenapa saya juga heran. Kenapa saya tidak seperti teman-teman mahasiwa
lainnya yang justru berebut kursi dibelakang. Namun setau dan seingat saya itu,
karena saya pernah membaca suatu artikel (yang entah sayapun lupa kapan tepatnya) mengatakan bahwa
duduklah didekat sumber ilmu (dalam ihwal ini: dosen). Maka kau akan dengan
mudah meneguk ilmu itu. Nah semenjak itulah saya suka duduk di barisan paling
depan. Tapi sejak saya SD kelas tigapun saya sudah senang duduk dibarisan
paling depan. Saya justru tidak bisa dan merasa nggak kerasan jika duduk
dibelakang.
Oh ya, saat itu sebelum bapak dosen membuka perkuliahan dengan
salam, terlihat ada sebagian mahasiswa yang masih membenarkan posisi duduknya
karena merasa belum pw (posisi wuenak). Ada juga yang meraih botol minumnya dari
tas dan meneguknya. Sebagian lagi ada yang sibuk membuka Whatsapp (walaupun
yang dibuka hanya chattingan dari grup), mendengarkan musik, merapikan
kerudung didepan kamera selfi dan kebanyakan berbincang obrolan ringan.
“Sudah bisa dimulai?” tanya dosen atas kesiapan mahasiswanya.
“Sudah pak”, jawab mahasiswa serentak. Kemudian beliaupun mengucap
salam dan dilanjutkan absen.
Setelah selesai mengabsen, beliau langsung membuka prolog
perkuliahan dengan sedikit cerita (walaupun sebenarnya banyak sih). Awalnya
saya agak kaget ketika beliau mengatakan tentang mahasiswa KW 3. Anda pasti tau
kan apa itu KW? Iya betul sekali. KW ialah lawan kata dari ori alias asli.
Istilah KW merupakan singkatan dari “kwalitas” yang mana memiliki tingkatan
seperti KW 1, KW 2, KW 3, dan seterusnya. Semakin tinggi angka KW, maka semakin
rendah mutu barang itu. KW ini biasanya disandingkan dengan sebuah produk atau
barang. Tetapi kali ini bukan produk, bukan barang namun manusia, yaitu
mahasiswa. Mahasiswa disandingan dan disatukan dengan kata KW hingga akhirnya
muncul sebutan mahasiswa KW. Dosen tersebut mengatakan bahwa Mahasiswa KW itulah
sebutan untuk mahasiswa-mahasiswa di Pekalongan tak terkecuali mahasiswa IAIN
Pekalongan. Bahkan tidak sekedar KW, tapi ditambahi angka 3 dibelakangnya.
Mahasiswa KW 3 berarti bahwa mahasiswa itu bisa diartikan sebagai
mahasiswa abal-abalan. Mahasiswa yang sebenarnya bukan mahasiswa yang
sebenar-benarnya. Sudah disebut KW ditambah belakangnya angka 3 lagi. Betapa
menunjukkan kualitas mahasiswa Pekalongan rendah (baca:buruk) bukan? Lantas
anda yang merasa kuliah di Pekalongan dan menjadi mahasiswa, apakah lantas diam
saja ketika ada yang mengatakan bahwa mahasiswa Pekalongan itu mahasiswa KW 3.
Apakah anda pasrah begitu saja dan masa bodo saja dengan orang yang menjuluki
mahasiswa KW 3. Atau justru anda terlecut dan agaknya marah, malu dan tidak
terima dengan sebutan mahasiswa KW 3? Jika seperti itu adanya itu lebih baik
dari pada anda merasa bodo amat.
Saya sendiri merasa tidak terima jika saya dikatakan sebagai
mahasiswa KW 3. Atas dasar apa kita disebut mahasiswa KW 3? Apakah kita seburuk
itu? Parameternya apa?
Mahasiswa KW, jelas beliau, bisa dilihat dari banyak faktor. Diantaranya
terlihat bahwa mahasiswa Pekalongan ini tidak banyak yang pro aktif. Terlihat
jarangnya kultur diskusi antar mahasiswa. Seolah mahasiswa hanya berangkat dari
rumah/ kosan kemudian masuk kelas, duduk, mendengarkan lantas pulang. Bisa
dilihat pula ketika sedang presentasi makalah atau diskusi kelas pasti jarang sekali
ada yang mau bertanya. Jika ada yang bertanyapun pertanyaannya dirasa kurang
berbobot. Namun pernyataan tersebutpun tidak lantas digeneralisasikan untuk
semua mahasiswa. Begitu seterusnya beliau memkomparasikan mahasiswa IAIN
Pekalongan dengan mahasiswa-mahasiswa di kota besar lainnya, terutama di Jogja.
Iya karena dulu beliau kuliah di Jogja.
Ketika ada permasalahan atau isu nasional yang sedang boomingpun
terkadang mahasiswa pekalongan mayoritas skeptis dan apatis. Mereka hanya
berdiam diri saja. Yang mereka pentingkan ialah nilai. Banyak orang berkata
bahwa di Pekalongan (IAIN Pekalonga) untuk mendapatkan nilai A itu mudah.
Tinggal absen lengkap, mengerjakan UTS, UAS dan presentasi. Selesai. Tanpa
mereka berfikir kualitas dari apa yang mereka kerjakan. Maka jangan heran jika
di kampus kita ini banyak mahasiswa yang protes nilai. Padahal jika di kampus
lain jarang (dan bahkan mungkin tidak ditemui mahasiswa) yang protes nilai.
Faktor lain lagi
misalnya mengenai kedisiplinan dan daya saing. Bisa dilihat bahwa kebanyakan
mahasiswa selalu datang terlambat. Entah itu memang karena disengaja oleh
mahasiswanya ataupun memang sudah menjadi kultur mahasiswa ataupun juga karena
memang keterlambatan itu memang sering ditolerir oleh para dosen. Tentunya
masing-masing otonomi dosen berbeda bukan? Daya saing (kompetitif) menjadi hal
yang patut dipertanyakan pula. Jangan sampai mahasiswa IAIN Pekalongan disebut
sebagai jago kandang alias tidak berani unjuk gigi diluar dan kalah saing
dengan mahasiswa dari kampus lain.
Namun selain hal-hal yang disebut diatas,
menurut saya sungguh tidak lazim jika kita melulu hanya memandang secara kasat
mata saja. Kita hanya melihat mahasiswanya saja tapi kita tidak memandang dosen
yang justru perannya itulah yang harus dipertanyakan. Dipertanyakan dalam hal
ini yaitu karena dosenlah yang mendidik dan bertugas untuk mengubah mindset
para mahasiswanya. Dosen inilah yang menjadi bahan rujukan alias referensi dan
suri tauladan bagi mahasiswanya. Jadi dalam hal ini mahasiswa IAIN Pekalongan
dikatakan sebagai mahasiswa KW maka perlu dipertanyakan juga kompetensi dosen
yang mengajar mahasiswa selama ini. Kasarnya, saya bisa mengatakan jika selama
ini dosen yang mengajar di IAIN Pekalongan tidak kompeten makanya ada penilaian
mahasiswa IAIN Pekalongan mahasiswa KW 3.
Yang jelas bagi
saya, dosen yang mengatakan mahasiswa IAIN Pekalongan merupakan mahasiwa KW 3
itu merupakan kritik dan masukan bagi segenap sivitas akademika IAIN
Pekalongan. Khususnya kritik tajam bagi mahasiswa IAIN Pekalongan. Apakah kita
mau disebut sebagai mahasiswa KW 3? Apakah kita hanya diam saja dikatai sebagai
mahasiswa yang jago kandang? Apakah kita sebagai mahasiswa (yang sejatinya kaum
intelektual) tidak malu dengan kedisiplinan kita selama ini? Yang ketika masuk
kelas selalu terlambat dan bahkan menunda-nunda masuk padahal dosennya sudah di
dalam kelas?
Kalau misalkan
saya menawarkan anda barang yang ori dan juga KW, kira-kira barang mana yang
anda pilih? Pastinya barang yang ori bukan? Barang yang berkualitas bagus dan
bukan abal-abal. Begitupun kita, apakah kita ingin menjadi mahasiwa ori atau mahasiwa KW. Jika mahasiswa KW sudah saya
sebutkan diatas, maka bagaimana sebenarnya mahasiswa yang ori itu? Tentunya
mahasiswa yang benar-benar mempunyai tekad yang bulat untuk belajar.
Tekad yang bulat untuk belajar dapat dilihat dari disiplinnya
mahasiswa itu ketika di kelas dan tidak hanya dikelas saja, diluar kelaspun dia
disiplin. Dapat juga dilihat dari keaktifannya dalam organisasi baik didalam
maupun diluar kampus. Tentunya keaktifan disini merupakan keaktifan dalam
berfastabiqul khoirot. Adanya kultur diskusi untuk meningkatkan wawasan dan
wacana tanda mahasiswa haus ilmu dan rasa ingin menumbuhkan sensitivitas
kemanusiaan. Mahasiswapun mampu bersaing
dan mempunyai jiwa yang kompetitif.
Lalu sekarang keputusanpun saya serahkan kepada anda para
mahasiswa. Anda mau memilih menjadi mahasiswa Ori ataupun anda memilih menjadi
mahasiswa KW. Kalau saya sih mending jadi yang ori yang berkualitas. Semoga
begitupun dengan anda wahai para mahasiswa. The decision is yours.. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar