Saatnya Adu Pendapat dalam Debat
Melihat pamflet atau brosur di papan pengumuman alias
mading tentang lomba debat, sebagian mahasiswa tak jarang malah mengernyitkan
dahi. Seolah-olah mereka enggan mengikuti lomba debat tersebut. Bahkan mungkin
ada sebagian yang berfikiran lomba debat itu kan buat orang-orang yang IQnya
tinggi dan sebagian lain mungkin mengatakan ihh lomba debat apaan sih,
lomba bacot doang. Memang nampaknya lomba debat ini menjadi jenis kompetisi
yang kurang diminati dan jarang dilirik oleh sebagian mahasiswa. Padahal,
manfaat lomba debat justru tak terhitung.
Lomba debat tidak
hanya beradu argumen mengenai suatu topik untuk membantai pihak lawan lantas
diambil pemenangnya. Lebih dari itu semua, Lomba debat dapat membantu mengasah
pola pikir dan nalar alias logika. Saat debat, debater pasti akan
mengemukakan pendapat secara tertata alias sistematis sesuai dengan topik yang
didebatkan. Dengan adu pendapat dihadapan tim lawan dan tentunya para dewan
juri, mental debater akan
terasah. Semakin sering debater berargumen tentunya akan semakin
berani dan percaya diri.
Selain itu,
berargumen tidak melulu hanya sekedar berani dan mati-matian mempertahankan
argumennya. Melainkan si debater juga perlu mengatur ataupun mengontrol
emosi agar kompetisi debat nya tidak berujung pada debat kusir. Oleh karena
itu, dengan debat melatih jiwa debater agar bisa bersikap terbuka
terutama dalam menerima argumen, opini dan kritik dari pihak lawan.
Dengan adanya keterbukaan
itu, seseorang tersebut alias debater akan menjadi rendah hati untuk
menerima berbagai perbedaan. Bisa dibayangkan kan jadinya jikalau saat debat si
debater tidak rendah hati menerima perbedaan dan tidak mau kalah lantas
merasa pantas menang? Pastinya akan menimbulkan chaos alias ricuh. Lebih
parah lagi jika debat berujung ricuh itu dilakukan oleh segelintir orang
pemegang kebijakan. Seperti yang pernah berlangsung sekitar bulan april lalu,
dilansir dari laman kompas.com rapat DPD ricuh hingga menarik rekannya
lantas jatuh. Itu kan salah satu refleksi orang yang tidak mau menerima
pendapat dan tidak mau kalah.
Tak hanya itu, peserta debat pun akan memiliki
interpretasi baru tentang tema ataupun topik yang diperdebatkan, wawasan baru,
dan tentunya pengalaman baru. Namun, akseptasi atau penerimaan argumen ini
tidak berarti bahwa seseorang kalah dalam berdebat. Justru, debater akan
berusaha berfikir keras dan analitis-kritis untuk kembali menyerang dan
mematahkan argumen lawan yang tentunya dengan argumen yang lebih baik.
Meminjam kata dari
Socrates “Hidup yang tidak direfleksikan tidak pantas untuk dihidupi”. Lomba
debat juga dapat untuk melakukan refleksi diri alias melatih kedewasaan.
Alasannya, bahwa seyogyanya debat bukanlah ajang untuk menjatuhkan ataupun
membantai bahkan membuktikan siapa yang kalah dan siapa yang menang, melainkan
untuk menunjukkan kebenaran. Manfaat lebih akan didapat jika debat menggunakan
bahasa asing. Selain mengasah otak, kemampuan bahasa asing pun akan meningkat,
seperti bertambahnya kosakata baru dan pronounciation atau pelafalan
semakin lancar.
Bagi mahasiswa yang disebut sebagai kaum intelektual harusnya mampu
berfikir kritis dan analitis. Jadi, janganlah ragu untuk mencoba mengikuti
kompetisi debat dimanapun dan ditingkat manapun. Caranya dimulai dari hal
terkecil yaitu dengan berani berargumen didalam kelas saat teman kita
presentasi. Dengan berargumen maka kita
berfikir. Seperti kata Descartes, “Saya berfikir, maka saya ada”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar