Tradisi Ngaji Setelah Magrib
Surut, Ini Penyebanya
Kabupaten Pekalongan terkenal dengan julukan kota santri, hal ini
disebabkan tersebarnya pesantren-pesantren hampir di seluruh wilayah baik di
kota maupun di kabupaten. Selain itu, Pekalongan dan kabupaten sekitarnya
khususnya Pemalang juga termasuk daerah pesisir dimana daerah pesisir itu masih
kental dengan ajaran agamanya karena dahulu penyebaran Islam melalui jalur laut
dan pesisirlah yang terlebih dahulu dijamah. Namun kenyataannya, hal tersebut
belum sepenuhnya menyentuh kalangan mahasiswa dan para remajanya. Hal ini
dibuktikan dengan belum optimalnya fungsi masjid yang digunakan untuk melakukan
kegiatan mengaji khususnya selepas magrib.
Mengaji ialah kewajiban bagi setiap muslim. Apalagi mengaji Al
Qur’an yang merupakan pedoman hidup/ kitab suci umat muslim. Namun melihat
perkembangan dari hari ke hari khususnya tradisi mengaji habis magrib ini
seakan-akan hampir jarang kita temui khususnya bagi remaja dan mahasiswa.
Sekali lagi, penulis menekankan pada remaja dan mahasiswa bukan anak kecil usia
dini. Sebenarnya apa yang terjadi sehingga kewajiban yang sudah menjadi tradisi
itu sekarang hampir jarang ditemui? Atau siapa dan apa yang salah sehingga
kebiasaan mengaji habis magrib ini semakin menurun? Padahal dahulu
pemuda-pemudi, remaja dan anak-anak berbaur ramai menjadi satu di dalam masjid/
majlis taklim/ mushola untuk mengaji selepas jamaah sholat magrib.
Kegiatan mengaji merupakan keharusan bagi setiap orang yang mengaku
beragama Islam. Mengaji dalam agama Islam merupakan bagian dari ibadah dan
orang yang melakukannya akan mendapatkan pahala. Mengaji tidak hanya dilakukan
oleh anak usia dini saja, melainkan para remaja, mahasiswa, dewasa dan orang
tua. Tetapi seiring perkembangan zaman, para remaja dan mahasiswa sekarang
sering meninggalkan kegiatan mengaji habis magrib dikarenakan alasan-alasan
tertentu. Alasan-alasan yang diutarakan para mahasiswa dan remaja inipun
beragam.
Dari 53 Mahasiswa yang penulis jadikan responden, beberapa alasan
atau faktor yang menghambat para mahasiswa tidak mengaji diantaranya seperti
malas, tidak ada teman, banyak tugas kuliah, lelah, tidak ada niat, dan nonton
tv/ main gadjet. Namun jika dari semua faktor tersebut diurutkan, maka yang
paling banyak ialah dikarenakan faktor lelah. Kemudian diikuti oleh banyaknya
tugas yang didapat dari kuliah, disusul dengan malas dan faktor lebih memilih
nonton tv ataupun main gadjet. Adapun tidak ada niat berada tepat dibawah
nonton tv/main gadjet dan faktor terakhir ialah karena tidak ada teman.
Dari beberapa responden, penulis dapat menyimpulkan bahwa semua
faktor penghambat yang penulis sebutkan diatas saling berkaitan satu sama lain.
Setelah penulis klarifikasi dengan masing-masing responden, ternyata atau
faktor yang menghambatpun sama. Kesimpulan berdasarkan urutan faktornya yaitu
mereka lelah dikarenakan mereka memiliki banyak tugas sehingga mengakibatkan
malas (karena lelah) sehingga mereka lebih memilih bersantai di kamar/ didepan
tv sambil bermain gadjet.
Sangat disayangkan para mahasiswa justru cenderung berlari ke tv
ataupun gadjet disaat mereka lelah dari pada untuk mengaji. Maka, penulis
menyarankan kepada para orang tua agar bisa membimbing dan menasehati agar anaknya
mengikuti kegiatan mengaji selepas magrib. Kepada seluruh lapisan masyarakatpun
alangkah lebih baiknya menghidupkan kembali dan menggalakkan kegiatan mengaji
selepas magrib. Sehingga, mahasiswa khususnya sebagai agent of change bisa
berbaur dan bersosialisasi dengan masyarakat melalui kegiatan mengaji.
Sehingga, dengan langkah tersebut minimal mahasiswa bisa terhindar dari bahaya
candu gadjet yang menurut psikolog Amerika David Greenfield, PhD gadjet justru
bisa mengakibatkan depresi dan bahaya lainnya.
*Penulis hanya
meneliti di daerah kabupaten Pekalongan, kota Pekalongan dan kabupaten Pemalang
(tempat penulis tinggal). Khususnya mahasiswa IAIN Pekalongan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar